“Terima kasih, ya pak Muklis,” ucap Ammar saat sampai di depan rumah kontrakannya, Muklis membantu memapah dirinya, sebab kaki Ammar masih sedikit pincang sebab belum sepenuhnya sembuh. Sang sopir mengangguk dan tersenyum, “Sama-sama, den,” jawabnya sopan. Setelah meletakkan tas kecil milik Ammar sang sopir keluarga itu pamit undur diri. “Saya langsung balik ya, non. Takut kalau bapak minta diantar,” pamitnya pada Davika. “Iya, pak, makasih ya.” Davika tersenyum kecil sambil merogoh tasnya mencari kunci rumah kontrakan tersebut. Sementara Ammar duduk di kursi kayu di teras mereka yang tak seberapa luas itu menunggu. Pemuda itu menatap pak Muklis yang berjalan kian menjauh dari rumah mereka menuju depan gang, tempat di mana mobilnya terparkir. “Lhoh, mas Ammar kenapa?” sebuah suara seo

