Perempuan bernama Lia itu tersenyum menatap Davika. "Kebetulan saya buat bubur, makanya bawa sedikit buat mas Ammar." "Oh terima kasih, tapi nggak usah repot-repot, mbak." Ingin sekali Davika melempar tetangganya itu sekarang juga. "Nggak repot kok, mas Ammar nya dimana?" Lia melongokkan kepalanya sedikit ke dalam. Bahkan Davika belum mempersilahkan perempuan itu untuk masuk atau apapun. Benar-benar tidak sopan. "Ammar lagi istirahat mbak, bubur nya boleh titip ke saya aja, nanti saya kasih ke Ammar." Geram sekali, Davika mengetatkan rahangnya melihat perempuan gatal yang tidak sopan ini. Tapi Lia sama sekali tidak bergerak untuk menyerahkan mangkok bubur dari tangannya tersebut. Melihat seorang perempuan menunjukan perhatian semacam ini untuk suaminya, Davika sangat kesal bukan main.

