“Errmmhh.” Suara erangan terdengar dari bibir Ammar, sebab tanpa sengaja, tangan Davika menyentuh tangan Ammar yang terluka. Dan hal itu menyadarkan Davika, kembali ke dunia nyata. Gadis itu melepaskan pagutannya dari sang suami. Semua ini salah, otak dan logika gadis itu kembali lagi ke semula. Tidak seharusnya dia terjebak pada situasi seperti ini dan mengikuti nalurinya. “Ma-maaf,” ucap gadis itu dengan canggung dan memundurkan tubuhnya. Ammar tersenyum kaku, bukankah dia yang seharusnya minta maaf. Sebab sekali lagi semua ini terjadi karena dirinya yang memulai? Dia tak bisa mengendalikan diri meski dia telah berjanji pada Davika tentang hal semacam ini. “A-aku yang harusnya minta maaf,” jawab Ammar. Mendadak suasana di ruangan itu, di antara keduanya menjadi lebih canggung dari seb

