Dengan bantuan Muklis, Davika berhasil merebahkan Ammar di ranjang kamarnya di rumah besar milik papanya. Beruntungnya sang papa bisa meyakinkan Ammar untuk tinggal sementara waktu ke rumah itu lagi. Davika tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia harus merawat Ammar sendirian dengan segala keterbatasan di rumah kontrakan mereka. Setidaknya di rumah ini juga Davika lebih tenang untuk dirinya sendiri. Kamar yang nyaman, segala hal tersedia tanpa dirinya memikirkan harus apa. Tak ada nyamuk, tak ada laba-laba yang menakutkan dan gak ada rasa gerah yang membuat tidurnya tidak nyaman. Davika merebahkan tubuhnya di samping Ammar dengan rasa lega dan nyaman. Ammar menoleh menatap istrinya itu. "Kamu capek ya, Dav? Maafin aku ya," ucapnya. "Hhmm?" Davika menoleh menatap Ammar. "Engg

