“Serius, Dav?” tanya Milly sambil mengemudikan mobilnya setelah menjemput Davika di depan gang dekat rumahnya. Davika mengangguk sambil mengendurkan otot lehernya yang kaku. “jadi lo sekarang hidup kaya rakyat jelata ya, Dav?” tawa Milly menggelegar memenuhi seisi mobil setelah mendengar penuturan dari cerita Davika. “Diem lo, gue sambit ntar mulut lo kalo terus-terusan ngetawain gue,” ucap Davika sambil mengayunkan tangannya, meski tak benar-benar mengenai wajah sahabatnya itu. “Dav, Dav, lo itu nyari penyakit. Udah paling bener lo itu nurut dikawinin sama jodoh pilihan bokap lo. Ceritanya nggak bakalan jadi kaya begini. Lo sih pake acara kawin-kawinan sama Ammar, bukannya untung malah buntung kan lo.” Gadis berambut sebahu itu terus menertawakan Davika. Davika enggan menanggapi ejeka

