"Ammar," sebut Davika dengan membeliak terkejut dan ketakutan. Baik Davika maupun kedua sahabatnya sontak berbalik. Terkejut setengah mati, tak menyangka Ammar ada di belakang mereka. Hanya Fabio yang tak terkejut, wajah pemuda itu tampak sangat tenang, bahkan terbilang sangat senang. Bibirnya menyeringai tersenyum puas pada apa yang dia lihat saat ini. Matanya yang menatap tajam pada Ammar dengan tatapan mencemooh. "Mar, sejak kapan kamu," tanya Davika dengan bibir bergetar. Dia terlalu banyak bicara yang tidak-tidak tadi. Jujur, dalam hatinya yang paling dalam, Davika tidak ingin mengatakan apa yang telah dia katakan tadi. Dia tak bermaksud, sama sekali tak bermaksud melukai perasaan lelaki yang sebenarnya telah membuatnya bahagia semenjak mereka bersama. Ammar terdiam tak sanggup

