Menyesal

1421 Kata

“Eh, Mas Iwan? Sudah pulang?” Aku terperanjat dan langsung berdiri. Mungkin aku kelihatan salah tingkah. ‘Bodohnya. Kenapa aku nggak tahu kalau sudah ada Mas Iwan. Untung nggak keceplosan nyebut nama Dinda. Ceroboh banget, kamu, Rum, Rum,’ rutukku dalam hati. Mengutuk kebodohan diri sendiri. “Kamu ini ya, terlalu fokus sama ponsel, suami pulang saja sampai nggak tahu. Tapi nggak apa-apa, daripada keluyuran nggak jelas mendingan main ponsel begitu. Itu tadi aku dengar kayaknya ada yang merencanakan sesuatu, memangnya besok ada rencana apa, Dek?” Mas Iwan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Otakku berputar untuk mencari alasan yang pantas. Untuk mengalihkan rasa gugup, bibirku tersenyum sambil berpura-pura sibuk merapikan tas kerja suamiku. “Oh, itu, Mas. Rencana belanja sama A

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN