Aku mendengus kesal sambil masuk ke mobil. Ayu pun masih nyengir kesakitan karena tendangan yang dihadiahkan oleh Dinda kepadanya. “Yu, kok jadi gini sih? Malah kita yang diusir nggak terhormat begini? Dia itu pelakor kan? Morotin duit suamiku? Kenapa sok suci gitu? Malah menjelekkan Mas Iwan segala. Dia gila atau gimana sih? Sudah nggak punya malu, masih berlagak paling benar sendiri!” sungutku. “Kakiku sakit tahu! Nggak ada otak sih memang si Dinda itu. Aku nggak terima diperlakukan begini, Rum. Kita harus kasih pelajaran!” Sejak awal, Ayu adalah orang yang memperingatkanku agar tidak melakukan kebrutalan. Namun, dirinya sendiri malah yang melakukannya. Ayu ikut emosi dan akhirnya berbuat kasar. Justru Dinda membalikkan keadaan. Kakinya kini kesakitan dan menambah dendam di dalam dad

