"Dimana Merri? Di mana cucuku? Kalian semua memang bodoh! Tak ada yang bisa aku andalkan. Cucuku ... pulang, Nak!" Di kamar besar berukuran tujuh kali lima meter, Nenek Syan menangis histeris seraya berteriak-teriak merutuki orang-orang yang berdiri berjajar di hadapannya. Wajah mereka semua nampak tegang sekaligus kesal karena sudah menjadi sasaran amukan Nenek Syan untuk kesekian kalinya. Dan lagi-lagi itu semua karena ulah Merri si cucu kesayangan. "Kami sedang mencarinya, Nenek. Orang-orang yang kami utus juga sudah menyebar ke setiap sudut kota," tutur Edrick, anak kandung Nenek Syan yang tak lain adalah ayah kandung Merri. "Menyebar di mana? Nyatanya tak ada yang menemukannya hingga pagi ini!" sentak Nenek Syan. Apabila sudah berhubungan dengan Merri, maka semua orang akan dianggap

