"Ratih, ayo makan dulu!" Lisa duduk sembari meletakkan semangkuk bubur untuk besannya itu. "Aku tidak lapar, Lis," jawabnya. "Aku ingin bertemu Ar," sambungnya kemudian. Sebelum Ar menghilang, Ratih memang sangat dekat dengan cucunya itu. Kadang hari-harinya memang ditemani oleh cucunya tersebut. Ar menemani kala masa senja yang tak lagi muda. Lisa menghela napas panjang. Kedua wanita paruh baya itu sama-sama merasa kehilangan cucu mereka sejak Ar dinyatakan hilang beberapa hari yang lalu. "Alan dan Aerin pasti akan membawa cucu kita kembali. Kamu tenang, ya," ucapnya. Ratih memeluk erat kedua tangannya sendiri, seolah mencari kehangatan dari tubuh yang mulai rapuh dimakan usia. Matanya nanar menatap jendela kaca yang memantulkan bayangannya sendiri. Raut wajahnya tampak sendu, d

