Setelah kepulangan Nicko, Alan langsung melangkah masuk ke kamar dengan langkah panjang, seperti ingin menghindari siapa pun yang berusaha mendekatinya. Pintu kamar sedikit terbuka, membiarkan cahaya remang dari lorong menyoroti punggungnya yang tampak tegang. Tak lama, langkah ringan menyusul di belakangnya. “Mas!” seru Aerin pelan, suaranya cerah dan penuh kehangatan. Senyumnya mengembang begitu melihat Alan duduk di pinggir ranjang dengan wajah yang tampak merajuk. Alan tidak menjawab. Mulutnya justru tampak bergerak-gerak kecil, seolah tengah merapalkan sesuatu, padahal hanya gumaman tak jelas dari rasa jengkel yang ia tahan-tahan. Ia memanyunkan bibirnya, seperti anak kecil yang baru saja direbut mainan kesayangannya. Entahlah jika di depan Aerin kewajiban seorang Alan seolah luntur

