Alan melirik Aerin yang terdiam. Pertanyaan yang dirinya lontarkan tak dijawab oleh wanita itu. "Kenapa kamu diam saja, Aerin?" tanya Alan memecahkan keheningan di antara mereka berdua. "Tidak apa-apa, Tuan," sahut Aerin memaksakan senyum. "Tadi, kamu–" "Tuan, saya mohon sebaiknya kita jangan membahas masa lalu. Saya hanya tidak ingin mempengaruhi kinerja saya nantinya. Anda dan saya adalah masa lalu. Sekarang, kita sudah punya kehidupan masing-masing!" jelas Aerin menegaskan. Sebenarnya ia tidak berani mengucapkan kata tersebut, tetapi agar Alan tak terus membuat Aerin terus mengingat luka lama, maka ia tegaskan apa yang seharusnya tidak ada di dalam hubungan mereka. Alan langsung bungkam mendengar ucapan Aerin. Entah kenapa hatinya sakit mendengar penjelasan sekertarisnya itu? S

