Pintu rumah terbuka dengan keras. Sandy masuk dengan masih menarik tangan Hana, yang berhasil membawa Hana pulang dari restoran sebelumnya. Hana terpaksa mengikuti kemauan suaminya itu. Setelah memasuki rumah, Sandy barulah melepaskan genggamannya dari tangan Hana. Ia kemudian berdiri membelakangi Hana. Suasana hening mencekam menyelimuti ruang tamu mereka. "Sejak kapan kamu bisa seenaknya bertemu dengan pria lain tanpa seijinku?" tanyanya datar, tapi nadanya tajam. Hana menatap punggung Sandy, menggenggam erat tas yang masih ia pegang. "Davin hanya temanku. Aku—" "Teman?" potong Sandy sembari berbalik melihat Hana. "Teman macam apa yang kamu temui diam-diam dariku?!" "Aku bukan anak kecil!" balas Hana dengan suara pelan namun tegas. "Aku tidak butuh ijinmu untuk sekadar bertemu se

