Jakarta, Januari 2012
Suasana di depan salah satu SMA swasta Jakarta itu sangat ramai. Murid-murid yang berada paling dekat dengan gerbang memakai seragam putih-hitam, sedangkan murid yang bertebaran lebih jauh dari pagar memakai seragam lebih keren. Kemeja putih dengan bawahan kotak-kotak hijau.
Pemandangan ini sudah biasa terjadi setiap semester antar dua sekolah itu. SMA Persada lawan SMA Mercu Buana. Di sekeliling lingkup sekolah, masyarakat tampak cemas bersembunyi dari balik-balik kios, papan pulsa, dan bilik telepon umum. Bayangan batu-batu dan botol plastik melayang di antara jalanan dan teriakan antar pelaku tawuran itu membuat suasana makin riuh.
Para guru yang masih muda dan kuat menjaga di gerbang mencegah suasana makin kacau dengan banyaknya murid keluar. Demi menghindari murid yang ingin turun ke jalanan mau ikut tawuran.
Di koridor yang tidak jauh dari gerbang, para murid yang sudah siap mau pulang mendesah sebal. Kalau ada tawuran jam pulang sekolah menjadi sedikit tertunda. Padahal jalanan antara sekolah Persada ke jalan besar tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dengan lari. Sayang sekali acara tawuran itu yang membuat mereka harus di sekolah lebih lama. Biasanya baru steril pukul setengah 5. Kalau ada tawuran seperti ini yang lebih menderita sebenarnya anak murid SMA yang berada di antara jalan itu. SMA Taruna Bakti. Tidak terlibat tawuran tetapi kebagian ricuhnya. Kelompok tawuran lewat di depan sekolah mereka. Karena markas SMA Merbu terletak di ujung Jalan Pattimura sana.
***
Beberapa saat sebelumnya ....
Hujan. Memasuki musim dengan curah hujan tinggi. Pasti akan lebih sering hujan turun. Sesuatu yang tidak bisa dijauhi kalau datangnya tepat berada di dekat kita. Hujan itu hanya air. Mengapa hatinya selalu sakit dan takut saat hujan turun?
"Alka, woi Brader! Ada tawuran, ikutan nggak??!"
Suara cempreng itu membuyarkan lamunan seorang pemuda yang menatap lurus pada langit yang gelap tertutup awan-awan yang menebal dan menghitam. Bentar lagi hujan. Hati pemuda itu menjadi gelisah.
Yang dipanggil dengan nama Alka menoleh ke arah pintu, ada seorang pemuda bertampang konyol pasang wajah tidak sabar.
"Nggak ikut, makasih!" balas pemuda itu. Dan pemuda bertampang konyol bagai semangat menghadapi keramaian itu bernama Tobi, tadi langsung pergi.
Tawuran adalah sesuatu yang tidak pernah ada dalam kamus Alka saat masuk ke sekolah ini. Dia tahu sekolah ini tidak biasa, punya musuh dan selalu meresahkan kapan saja. Tetapi dia memilih sekolah ini karena dekat dengan rumah.
Di luar kelas makin ramai katanya ada p*********n dari SMA di ujung jalan yang sudah turun temurun jadi musuh bebuyutan. Di kelas hanya menyisakan murid-murid perempuan bergerombol membicarakan tawuran, dan ada pula yang asyik belajar. Hebat sekali perempuan itu bisa belajar di tengah kebisingan. Hatinya berdesir mengingat seseorang yang kelasnya berbeda. Alka bangkit dari duduknya bergegas meninggalkan tas di meja kelasnya.
Kelas IPA tujuannya berada di deretan lantai atas, Alka menaiki tangga demi tangga. Kedatangannya membuat beberapa perempuan yang lagi ngobrol kehilangan fokus dan menatap pemuda tampan itu dengan rasa penasaran. Kelas 12 IPA 1 tujuannya.
Ketika Alka masuk ke kelas itu dan melihat perempuan yang dicarinya duduk bersama teman-temannya. Pemuda itu tersenyum manis dan melambaikan tangan.
"Hai, Na!" sapa Alka pada Inna.
Gadis cantik dan imut berambut panjang suka memakai pita. Alka mendekat pada Inna dan kelompoknya. Salah satu dari teman Inna adalah cewek tomboy.
"Hai, Al!" balas Inna senyum malu-malu.
"Cie, Alka nyamperin Inna nih!" seru Winjes. Namanya Winka Jessica, dipanggilnya Winjes supaya gaul.
"Ada tawuran di luar," kata Alka. "Jangan pulang dulu ya sampe di depan aman." Raut cowok itu cemas, rada tidak nyaman saat membayangkan betapa ngerinya suasana di luar.
"Iya, tawuran lagi di awal tahun 2012 ini," jawab Inna. "Alka jangan ikutan ya. Nanti kenapa-napa."
Alka tersenyum. "Nggak kok. Lebih baik di sini, liatin Inna."
"Jangan diliatin, nanti Inna malu," jawab sang cewek dengan pipi merona.
"Deuh gombal. Jangan sampe meleleh!" decak Winjes membuat Inna senyum malu. "Jangan deh, itu cuma gombal!"
Alka mengenal Inna sejak menjadi anak baru di sekolah itu. Pertemuan pertama mereka tidak seperti cerita dalam novel. Tidak ada kejadian manis yang bisa diingat. Pokoknya saat itu Alka melihat Inna jalan sambil tertawa dengan temannya di koridor. Alka jadi ingin mengenal Inna. Setelah kenalan dan dekat beberapa bulan, Alka jadi yakin ingin menjadikan Inna sebagai pacarnya. Tepatnya baru benar-benar menyadari perasaannya setahunan ini. Alka mencoba cari tahu lewat Alya, saudara perempuannya, tapi Alya juga kurang tahu tentang Inna. Alka nekat saja kenalan sendiri pada Inna. Sayangnya di kelas 12 tidak ditakdirkan sekelas bersama.
"Nanti pulang sama Alka ya, Na." Sebenarnya Alka juga ragu karena cuaca di luar sepertinya tidak akan mendukung rencana pemuda itu.
"Iya, tapi kayaknya mau hujan. Inna mau dijemput sama Mama kalo hujan deras. Alka nggak apa-apa, ‘kan?" tanya Inna merasa tidak enak hati.
Pemuda itu menggeleng. Tapi semoga saja tidak hujan. Dia ingin pulang bersama Inna. Tolong jangan hujan.
***
"Udah bisa pulang?" Begitu pertanyaan yang keluar dari murid-murid di sekitar Alka. Dia masih berdiri di kelas Inna berbincang dengan gadis itu.
Inna merapikan tas dan Alka mengajak turun untuk pulang bersama, tapi saat di tangga Alka harus menelan kekecewaan karena langit sudah makin gelap dan awan siap menumpahkan airnya dari sana. Alka menahan degub jantung. Dia melirik Inna sambil menuruni anak tangga.
Bagaimana mengatakan pada gadis itu kalau dia tidak mau pulang sampai hujan reda, apakah Inna mau menunggu? Di saat dia mulai berani mengajak Inna pulang bareng, cuaca dan musim tidak mendukung. Sebelumnya, saat dia hanya mengagumi Inna tanpa berani mengajak pulang bareng cuaca selalu cerah.
"Yah, hujan!" seru Inna dan mata Alka membulat pada tetesan air yang turun dari langit.
Menyedihkan.
"Kayaknya Inna mau pulang sama Mama aja deh. Maaf ya, Al," kata Inna lembut tidak enak hati.
"Oh. Hujan-" Alka menggumam dengan mata membulat. "Aku ke kelas dulu ya ngambil tas." Pemuda itu tersenyum sekilas dan melangkah menuju kelasnya. Sesampai di depan kelasnya, Alka melihat salah satu teman dari lain kelas yang super pendiam tapi populer duduk di kursi ubin. Fokus Alka yang tadinya ke cewek itu teralih menjadi ke hujan yang turun.
"Yah, udah hujan!" seru Alka dan masuk ke dalam kelas.
Pemuda itu menatap kelas yang sudah kosong. Hanya tas hitamnya yang tersisa di salah satu meja. Suara hujan turun dan beradu pada genting membuatnya bergemetar hebat. Alka berjalan menuju kursinya dan duduk di sana. Dia merenung dan menghela napas. Dalam keheningan ditemani suara hujan.
Hujan cepatlah pergi. Aku nggak suka.
Banyak orang yang menyukai hujan. Wangi hujan, suara hujan, bentuk hujan bahkan hujan sering dijadikan alasan orang malas untuk bepergian. Alka tidak menyukai hujan. Bukan karena hujan sering membuat rencana aktivitas di luar tertunda bahkan gagal, bukan juga karena hujan menciptakan genangan di mana-mana dan parahnya lagi membuat bencana alam.
Entah mengapa hujan deras membuatnya takut dan gelisah. Tidak tenang. Seperti ada yang menusuk di hatinya. Menyakitkan. Hujan di matanya sangat menakutkan.
Alka mengambil tas kemudian memakai di punggung. Dia melangkahkan kakinya gontai menuju pintu kelas. Suara hujan masih deras. Dia merasa kesepian dan sakit di rongga dadanya. Bagai hujan yang belum mampu membuat suasana dingin, sudah mampu mencekat dan membekukan paru-parunya sampai sesak.
***
Hujan baru reda sekitar pukul setengah 6 sore. Alka mengeluarkan kunci motornya dari saku, tangannya yang bergemetar hebat ketika melihat kunci tersebut. Dia berdiri di parkiran sendirian mematung tampak bodoh. Parkiran sudah lumayan kosong. Sudah sore begini pasti makin sepi. Hanya dia yang nekat menunggu sampai hujan reda menyisakan titikan air dari daun-daun.
Pemuda itu menarik napas sebelum memasukan kunci ke box dan mulai menaiki motor. Sudah ganti motor. Ini lebih ringan dan mudah dikendalikan. Nggak akan kenapa-napa. Hujan juga sudah reda hanya ada genangan dan hawa dingin. Alka terus meyakinkan diri menyalakan mesin motor dan berdoa. Dia akan pulang dengan selamat, harapnya.
Butuh waktu setengah jam sampai ke rumah. Padahal biasanya kalau sambil ngebut hanya bisa ditempuh 15 menitan. Dia hati-hati selama di jalanan yang licin dan banyak genang air.
Sesampainya di rumah pemuda itu menarik napas lega. Alka melepas jaketnya di ruang tamu. Suara TV menyala mengumandangkan adzan.
"Katanya ada tawuran lagi, Mas?" tanya seorang perempuan seraya mendekat.
Alka mencium tangan halus perempuan itu. "Iya, Ma. Makanya aku pulang telat."
"Alya udah pulang dari tadi." Mama mengerutkan dahi.
"Nunggu hujan reda." Alka tersenyum, tapi sedih. "Aku mandi dulu." Dia pamitan pada sang mama untuk pergi ke kamar dan membersihkan diri.
Di belakang, Mama menatap punggung si anak sulungnya. Beliau menggeleng lemah lalu berkata, "Nanti bantu Mama goreng ikan ya, Alya lagi nugas."
Untuk urusan di rumah Alka berbaik hati mau membantu. Dibanding Alya, dia lebih rapi dan rajin dalam hal membantu orangtuanya. Pemuda yang manis dan baik, rata-rata orang lain menilainya seperti itu.
***
Usai makan malam bersama Mama dan Alya. Alka disuruh buat nyuci piring. Adiknya si Alya yang katanya lagi banyak tugas langsung kabur begitu saja. Sang mama langsung kabur juga mau nonton sinetron. Terpaksa tapi ikhlas Alka membantu mencuci piring terlebih dahulu di dapur sambil bernyanyi-nyanyi. Dia sudah tidak sabar setelah nyuci piring akan ngecek pelajaran untuk hari esok. Kalau tidak ada tugas, dia mau mengganggu Inna. Tapi Inna mau diganggu tidak ya? Alka mengelap tangannya supaya cepat kering.
Di dalam kamar Alka mencabut ponsel yang sedang diisi daya baterainya. Smartphone yang sudah bisa menggunakan internet lebih cepat daripada 2G. Dia membuka roomchat nomor milik Inna di w******p.
Alka:
Hai, aku ganggu nggak?
Inna:
Nggak kok.
Alka:
Mau dengerin aku main piano nggak?
Inna:
serius?? Mau dong. Kangen nih denger lagu dari mainan piano Alka.
Alka:
Biar Inna tidurnya nyenyak. Aku telepon nanti ya terus dengerin.
Inna:
rekam aja nanti dikirim biar Inna bisa dengerin terus berkali-kali
Alka:
rekam aja? Nggak mau dengerin langsung?
Inna:
Rekam aja. Nanti Inna biar bisa dengerin sebelum tidur juga.
Alka:
Oke. Alka rekam dulu ya. Nanti dikirim.
Inna:
makasih ya udah mainin lagu buat Inna.
Alka:
Sama-sama. Pokoknya dengerin aja lagu ini spesial.
Inna:
oke deh ;)
Alka:
Bentar mau rekam dulu ya.
***
Alka berjalan menuju sebuah piano di sudut kamarnya. Dia bisa memainkan alat musik itu sejak kecil. Piano Turunan dari sang nenek dan dianggap Alka sebagai warisan kesayangan. Dia membuka tutup piano dan mengelus tuts berwarna putih. Tangannya memencet asal potongan demi potongan itu mengetes nada. Alka menarik kursi kecil dan duduk siap memainkan lagu. Dia menyalakan ponsel ke mode rekaman dan diletakkan di atas supaya suara yang ditangkap bisa jernih.
Pelan tapi lembut permainan Alka sebuah lagu Jepang populer yang berjudul First Love. Hanya jemari Alka yang mengalun lembut, tapi lama kelamaan bibir pemuda itu mengikuti nada yang dimainkan dengan sebuah nyanyian. Alka bernyanyi dengan suara pelan.
Klik.
Alka sudah berhenti memainkan lagu di pianonya dan menghentikan rekaman. Tiba-tiba pintu di belakang terbuka lebar.
"Mas, aku pinjem-" Alya melongo melihat Alka duduk di depan piano dan memegang ponsel. Mata Alya menatap pada tutup piano yang terbuka.
"Pinjem apa? Kamu tadi ujan-ujanan pulang sekolah ya?" tanya Alka.
"Aku ngebut naik motornya. Di tengah jalan terpaksa nepi dan pakai jas ujan." Alya masih tertarik pada kegiatan yang sedang Alka lakukan. "Oh ya, hampir lupa sama tujuanku ke sini, aku mau pinjem kamus Bahasa Inggris."
"Bilang kek pake melamun segala," ucap Alka bangun dan mengambil kamus di rak bukunya yang tersusun rapi.
"Mas, kamu abis main piano?" tanya Alya sedikit heran.
"Iya aku lagi rekam buat Inna. Dia suka sama mainan pianoku katanya romantis," jawab Alka dengan nada senyum.
"Oh, kamu serius suka banget sama Inna? Kapan jadiannya deh udah lama pedekatenya, hm." Alya merenung sesaat.
"Iya. Mana ada yang suka tapi nggak serius? Makanya aku mau makin deketin dia. Gimana ya biar dia peka? Dia imut dan polos banget," kata Alka terkekeh.
"Ya udah, kamu usaha. Kalo kamu naksirnya cewek yang imut dan polos harus hati-hati. Takutnya Inna emang nggak mau pacaran. Percuma dong kamu deketin?" sahut Alya.
Alka memberikan kamusnya. "Udah sana, kamu kembali ke kamar. Aku mau pedekate dulu." Pemuda itu memainkan alisnya yang tebal sambil memegang pintu mau ditutup.
"Yeee! Dasar cowok lagi jatuh cinta!" seru Alya langsung kabur.
Di dalam kamar yang menyisakan Alka, pemuda itu duduk di pinggiran kasur. Tangannya meraba ponsel. Dia mengirimkan rekaman tadi ke nomor w******p milik Inna. Sambil menahan senyum dia menunggu respons Inna usai mendengar rekaman itu.
"Romantis banget lagunya. Aku suka dan bakal dengerin ini terus. Makasih ya, Al."
Itu adalah suara Inna yang terdengar dari voice note yang dikirimkan sebagai balasan. Suara Inna yang lembut dan ceria membuat hati Alka berdesir. Senang bukan main bisa menyenangkan hati Inna. Mungkin ini yang dikatakan friendzone seperti yang dibilang Tobi, sobat dekat Alka di sekolah.
Sampai pergi tidur Alka tidak berhentinya tersenyum sendirian.
***
2 Des 2021