2. Ada yang manis

1549 Kata
"Lo nggak apa-apa?" Saat keluar dari ruang UKS dicegat oleh seseorang cowok tinggi putih dan berwajah tampan. Priska terkesiap melihat Gerald bersama Nabila dan temannya yang lain. "Kok kalian cemasin gue? Yang sakit keseleo noh si Tyo." Dia berjalan membuat gerombolan itu pergi dari depan UKS. "Kita takutnya lo dipanggil kepsek," sahut Nabila. Gerald mengangguk pelan raut wajahnya cemas. "Kalo lo butuh bantuan ada gue, biar gue belain lo. Gue bisa jelasin kalo perasaan nggak bisa dipaksa," ucapnya ingin menjadi orang yang berbaik hati bantu Priska. Priska tersenyum. Dia tahu Gerald teman sekelasnya dulu saat kelas 11 memang sedang niat sekali mendekatinya. Kalau Gerald memang serius Priska sih mau saja terima cowok itu. Daripada sama Tyo yang dikit-dikit mengancam bunuh diri. "Ya udah, yuk ke kelas. Dia cuma keseleo, ‘kan?" Nabila mendecak sebal. Hanya dia yang tahu kenapa raut wajahnya masam sekali. "Masih nangis mulu tuh di UKS. Gue heran dia bandel tapi cengeng," decak Priska sebal. "Kalo emang takut kenapa-napa, ya nggak usah nekat!" Priska ingin sekolah dengan lancar sampai lulus. Tidak ada masalah apalagi membuat anak orang sakit akibatnya. Sakit hati ataupun juga sakit fisik. Priska kembali ke kelas dan disambut oleh teman sebangkunya, Alya. Dia duduk bersama dengan sang cewek si anak baru saat kelas 11 tahun lalu. Puput dan Rianti yang sekelas dengannya duduk di depan Priska. Sebenarnya awalnya Priska duduk sama Rianti dan Puput sama Alya. Tapi Puput tidak betah, ingin duduk sama Rianti saja. Jadilah Alya pindah ke belakang bersama Priska. Puput yang hobi gosip lebih suka sama Rianti. Maklum Alya anaknya kalem dan masih malu. Terbawa sebagai anak baru. "Lo banyak yang suka ya?" Goda Alya sambil merapikan meja. Bentar lagi bel masuk kelasnya. "Gue sama Inna dan Alka nonton kejadian itu juga tadi." "Jangan ditonton lain kali. Nggak bagus karena drama banget dan lebay. Gue malu banget, tapi udah kebal." Dari dulu Priska sering terlibat dalam kejadian yang menarik perhatian murid lain. "Gue iri sama lo. Banyak banget yang suka. Pengen deh disukain banyak cowok," ucap Alya sambil senyum kecil. "Jangan. Bikin pusing. Dan, nggak enak. Belum tau maksud jelas mereka apa. Salah-salah jadi sakit hati. Cowok kayak gitu cuma maunya nunjukin rasa menang doang!" sergah Priska. "Gue disuruh sama Alka minta tips sama lo, biar gue bisa ditaksir cowok. Tuh anak emang nyebelin banget. Emangnya gue nggak laku banget!" seru Alya ketawa. Priska jadi ikutan tertawa. Omong-omong Alka itu adalah saudara cowok kembaran Alya. Mereka berdua pindah saat kelas 11. Priska hanya sebatas tahu Alka karena cowok itu yang selalu diomongin sama Inna dan Winjes. Si Alka yang menyukai Inna. *** "TAWURAN! Jangan keluar dulu sampe aman!" "Hari ini berasa panjang! Perasaan tadi siang masih panas dan sepi. Sekarang di depan udah rame tawuran dan langit mendung!" "Selalu aja. Tadi kejadian Tyo jatoh. Sekarang tawuran!" Jauh dari hiruk pikuk suasana tawuran di depan SMA Persada, di dalam sebuah kelas ada seorang murid perempuan mengabaikan kebisingan para teman perempuan yang lain. Priska sedang asyik mengisi Lembar Kerja Siswa. Kejadian di luar sekolah dan anak-anak cewek yang gosip membentuk kelompok di sekitarnya tidak diacuhkan. Gadis itu masih menuliskan jawaban pada kertas putih. Terlalu asyik menulis tidak sadar teman sebangkunya sudah pergi keluar. "Udah mau ujian bukannya belajar masih aja ngajak berantem. Dasar anak SMA elit kelakuan nggak elit," decak Rianti, gadis berkulit gelap dengan rambut panjang yang duduk di depan Priska. Matanya menatap ke jendela luar. Padahal tawuran jauh dari pandangannya. Apa yang dia sinisin seperti kejadiannya di depan mata? Priska tidak merespons dan tangannya menyalin jawaban yang dia cari dari internet di browser ponsel. Daripada mengurusi hal yang tidak penting lebih baik mengisi waktu luang ini dengan isian LKS-nya. "Siapa yang keluar turun ke jalan? Gerald?" Nabila bertanya, dia yang tinggi dan kelihatan paling mencolok ditambah berjawah cantik. Nabila main ke kelas Priska, biasa cewek kalau ada yang heboh langsung ke kelompoknya buat bergosip. Gerald. Nama itu membuat Priska sedikit menghentikan tulisan lalu dia tak peduli menulis lagi. "Gerald ada kok tadi keliatan deket gerbang dalem," sahut Puput laporan. "Pentolan tahun ini mah nggak seru!" celetuk Evhi, yang kelasnya beda dan sekelas sama Nabila. "Coba aja masih Guntur yang sekolah di sini. Atau yang kayak Guntur deh." Punggung Priska terasa kaku dan dingin. Tangannya berhenti menulis dan kesulitan menggerakan tangannya. Evhi tidak sadar mengucapkan nama itu cukup fatal di depan seseorang. Dan, tidak ada yang menyadari kekakuan tubuh Priska karena satu nama. Orang lain mungkin mengira dirinya sudah melupakan dan menganggap biasa kejadian itu. Tetapi beberapa tahun terakhir ini, Priska memiliki ketakutan sendiri. Selama masih berada di lingkungan yang mengingatkannya pada Guntur, dia percaya masih belum bisa lepas. Setiap hari Priska melewati tempat itu. Di mana dua orang pergi tepat di depan matanya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaikan film yang diputar terus menerus. Priska mengingat detailnya. Bahkan dia ingat Naya yang kehilangan kendali tubuh saat menginjak tali sepatunya sendiri dan Guntur yang memakai seragam masih bagus, tidak sebuluk saat pertemuan pertama mereka. Kejadian yang selalu datang menjadi mimpi buruknya, membuat takut dan merasa bersalah. "Lo ngerjain LKS? Nyontek dong pas mata pelajaran Sosio," ucap Nabila sambil menyenderkan tubuhnya yang tinggi dan langsing ke meja Priska. Priska menggumamkan iya. Sejak masuk kelas ini 11 IPS dulu, Dia selalu dipepet oleh geng cewek yang katanya paling populer. Priska ingin direkrut paksa ke mereka berkat gosip dan imej Priska yang banyak ditaksir cowok tetapi dingin banget. Berkat Nabila yang mendekatinya di kelas itu, anak murid perempuan lainnya jadi takut tak mau menggosipi atau menatap sinis pada Priska. Saat masa-masa kelas sepuluh dan sebelas, Priska kesulitan berteman karena masih banyak yang menaruh kekesalan akibat kejadian itu. Ya, kejadian itu. Di mana salah satu senior favorite cewek-cewek meninggal kecelakaan karena mengejar Priska. Seorang guru datang ke kelas mereka dan mengamati keadaan dalam kelas. "Anak-anak udah aman, bisa pulang." Semua murid yang mayoritas perempuan langsung mengambil tas dan keluar dari kelas. Terlalu lama di sekolah membuat bosan dan muak. "Priska, gue duluan ya, kayaknya mau hujan deres," ucap Rianti yang berdiri di meja depan. "Hati-hati di jalan," kata Priska sembari senyum. Rianti sudah keburu kabur belum sempat mendengar Priska. Priska membereskan buku-buku dan alat tulisnya. Tiba-tiba ada cahaya mengedip di langit disertai suara gemuruh menggelegar. Ada saja alasan menunda kepulangan. Bulan Januari. Akan mulai sering hujan turun. Mata Priska yang sendu mengamati langit luar dari kelasnya yang sudah kosong dan sepi. Gadis itu menyampirkan tasnya ke bahu dan berjalan keluar dari kelas. Gerimis sudah turun membasahi bumi satu per satu menciptakan aroma yang menyenangkan. Dia duduk di kursi ubin yang ada di koridor menunggu hujan turun makin deras. Sudah terlanjur hujan dia malas hujanan di jalan. Lebih baik hujan cepat turun dengan derasnya biar lebih cepat juga redanya. Gadis berambut panjang itu duduk sambil memeluk tasnya. Priska masih menatap hujan yang turun dan menghirup aromanya. Dia sangat menyukai wangi hujan. Wangi yang membuatnya merindukan hujan yang sudah lama tidak turun ke bumi. *** "Hai, Pris!" Ada suara lain yang muncul dari belakang gadis itu. Priska menoleh dan melihat Gerald. Pemuda yang katanya jadi idola di angkatan mereka. Tidak banyak cowok ganteng di IPS namun kebanyakan cewek-cewek naksir Gerald. Priska memaksakan dirinya menarik sudut bibir. "Hai, kok lo belum pulang?" tanyanya. Sudah 6 bulanan ini, Gerald seperti mendekatinya dan rajin mengirim pesan bahkan ketika Priska di rumah. Padahal dulu waktu mereka sekelas di 11 IPS 1, Gerald seakan tidak menggubrisnya karena sudah memiliki pacar. Siapa tahu dulu Gerald memang setia pada pacarnya dan saat sudah jomblo baru mendekati Priska. Cewek itu menerima saja perlakuan baik Gerald, karena cowok itu lumayan bikin nyaman sikap dan cara mendekatinya. "Nunggu tawuran kelar tapi keduluan hujan. Lo nggak ke depan aja, sepi loh di sini," kata Gerald duduk di sebelah Priska. Pemuda itu tersenyum yang bisa membuat para gadis terpesona. "Enakan di sini. Depan pasti rame." Maksud dari depan adalah koridor yang dekat dengan gerbang. Pasti di sana banyak yang menunggu hujannya reda. "Oh, gue temenin deh. Lo pulang sama siapa? Sama gue aja," ujar Gerald. Priska tersenyum kecil. Gerald dan gengnya suka aneh. Mereka bertiga seperti sedang melakukan pendekatan dan mencari perhatian Priska. Maklum saja dari dulu memang sudah banyak murid cowok yang mencoba menarik Priska, tetapi tidak ada yang ditanggapi serius. Gerald dan gengnya ganteng-ganteng dan lucu. Gerald yang baik, Didin yang cuek dan penuh kejutan, dan Jay yang romantis. Ketiganya menjadi menarik bagi Priska karena semuanya secara bersamaan mencoba menggapai hatinya. Selama 6 bulan ini. "Belum ada temen pulang. Kemarin sama Didin temen lo itu. Dia ke mana suka ngilang? Nanti muncul lagi buat ngasih cokelat dan bunga," ucap Priska. Kakaknya mulai jarang menjemput karena kesibukan. Ya, tidak seperti dulu saat masih kuliah. Mas Evan sibuk demi masa depannya, mau menikahi pacarnya. Priska juga makin dewasa harus belajar mandiri. Sudah waktunya dia dewasa sebab sebentar lagi lulus sekolah. "Jangan mau sama Didin. Kalo suka ngilang gitu kali aja punya banyak cadangan, Pris. Mending ama gue yang jelas pasti lagi jomblo," sahut Gerald menyunggingkan senyum. "Oh," Priska mengangguk. Di antara mereka memang yang paling jelas menunjukkan rasa suka adalah Gerald. Tapi sepertinya cowok itu terlihat ragu dan tidak maksimal dalam mengerjarnya. Buktinya sudah 6 bulan ini dia tidak ditembak juga, tidak seperti cowok lain yang langsung nembak Priska karena penasaran. Kalau disuruh milih ya jelas Priska lebih ingin bersama Gerald. *** 1 Des 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN