Chapter 7

1500 Kata
MATEMATIKA, aku tidak membencinya pun juga tidak menyukainya. Beberapa kali mataku terkantuk, bertahan ditiga puluh menit terakhir menunggu salam penutup oleh bu Jilda. Gerakan jarum jam diatas papan tulis terasa begitu lambat, satu jam pelajaran yang begitu menyiksa. Sayup-sayup ku dengar bu Jilda menjelaskan bahan Try Out didepan sana, dia tidak terganggu sama sekali meskipun wajah seisi kelas tidak lagi fokus mendengarkan penjelasannya.  Sepanjang pelajaran cuaca tidak bersahabat, luarbiasa panas hingga kemudian gumpalan awan hitam menyumbat pori-pori tanah yang gersang dengan air yang deras, aroma petrichor menguar. Sambaran kilat dilangit sukses membuat seisi kelas gaduh, aku sendiri hanya bisa menutup telinga tatkala mendengar efek bunyinya yang menggelegar, sebab ruang kelas tidak kedap suara. Kantuk semua orang sepenuhnya menghilang berganti menjadi ketegangan--dan penjelasan bu Jilda otomatis terhenti. Kebanyakan dari kami masih menjerit histeris, bu Jilda membuka percakapan--mencoba menenangkan murid-murid. “Kalian tahu siapa orang yang mendapat gelar bapak matematika?” tanya bu Jilda memecah suasana mencekam, fokus kami kembali tertuju padanya. Aku selalu menyukai sesi ini. Ibarat film, ini adalah scene favoritku. Salah satu anak laki-laki yang selalu menyabet angka fantastis ditiap ulangan matematika mengangkat tangannya. “Ya, Rizal?” tunjuk bu Jilda saat Rizal mengangkat tangannya. “Pythagoras, bu” “Hampir benar Rizal, tapi bukan Pythagoras. Meski demikian, Pythagoras juga memiliki sumbangsih yang besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan kita saat ini” “Kira-kira ada yang tahu siapa itu bapak matematika?” tanya bu Jilda belum menyerah, kami menggeleng tidak tahu. “Dia adalah Al Khawarizmi, seorang ilmuwan islam yang juga merupakan ahli ilmu astronomi dan geografi. Beliau jugalah penemu pertama aljabar dan simbol bilangan 1-9 dan 0” “Temuannya ini mampu memecahkan kesulitan simbolisasi yang masih menggunakan angka romawi. Coba kalian bayangkan, kalau untuk angka 8 saja dalam angka romawi sama dengan VIII, jika 38 sama dengan XXXVIII, lalu bagaimana dengan angka jutaan? Tentu ini menjadi sebuah kesulitan tersendiri. Sebab itu, temuannya ini sangatlah praktis dan efisien” “Apa dari kalian ada yang menyangka kalau Al-Khawarizmi dan ilmuwan-ilmuwan lain jaman dulu juga banyak berasal dari islam?” tanya bu Jilda lagi, kami semua kompak menggeleng. “Kebanyakan dari kita pasti mengganggap teori-teori yang sedang kita pelajari sekarang berasal dari orang Barat. Mungkin beberapa iya, tapi sebagian besar temuan-temuan tersebut berasal dari ilmuwan muslim yang diklaim oleh orang Barat. Sehingga wajar kalau kita berpikir bahwa akar dari temuan ilmu sekarang berasal dari Barat” jelas bu Jilda membuat seisi kelas takjub. “Ya, Abdullah, ada pertanyaan?” kata bu Jilda. “Memangnya teori apa saja bu yang diklaim orang barat dari ilmuwan muslim?” tanya Abdullah penasaran, bu Jilda tersenyum. Bahkan Abdullah yang terbilang murid paling cuek dalam belajarpun terseret penasaran dengan fakta menarik ini. Bu Jilda berjalan mendekat ke meja murid paling depan barisan tengah kemudian menjawab pertanyaan Abdullah, membuat suasana kelas terasa hangat. “Banyak, contoh pertama Roger Bacon dari Inggris dianggap orang pertama yang mengonstruksi diagram mesin pesawat terbang, dan dianggap sebagai orang pertama memikirkan penerbangan manusia. Berikutnya Leonardo da Vinci menyiapkan prototipe mesin pesawat terbang. Faktanya, adalah insinyur dan penerbang Spanyol Muslim bernama Abbas bin Firnas (w. 877 M) yang pertama dalam sejarah yang membuat ‘mesin’ pesawat terbang di Cordobia” “Dia membuat glider atau menggunakan bulu burung Nasar sebagai sayap yang dengannya dia terbang dari bukit di Cordoba dan berada di udara selama beberapa menit. Setelah mendarat dia menderita luka-luka, karena dia tidak memiliki ekor pada glider” jelas bu Jilda, dia mengambil jeda sejenak kemudian melanjutkan penjelasannya, “Contoh kedua, karya spektakuler Roger Bacon yang berjudul Opus Majus pada bab kelima berisi Salinan persis dari Kitab Al-Manzhir karya Ibn al-Haitsam. Di bagian ini ternyata Bacon menguraikan ide-ide optik tiga ilmuwan muslim, yaitu Ibn al-Haitsam, Ibn Sina dan Ibn Rusyd, dan masih banyak lagi. Kalian bisa cari tahu sendiri dimesin engine jika ingin tahu lebih banyak” ujar bu Jilda tersenyum ramah. “Kalau begitu, bagaimana ceritanya orang barat bisa mengklaim temuan orang muslim, bu?” tanya Abdullah lagi, sepertinya dia memiliki ketertarikan terhadap sejarah. Bu Jilda terdiam, ekspresinya berubah menjadi lebih sendu, kemudian kembali berbicara, “Perang. Peradaban muslim diserbu pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Mereka memporak-porandakan Baghdad, Khalifah dan penduduk ditangkap. Mereka juga menghancurkan perpustakaan yang sarat dengan manuskrip berharga. Sejarwan Ibnu Khaldun mengungkapkan, manuskrip-manuskrip itu dilemparkan ke Sungai Tigris. Hingga muncul sebuah legenda, air sungai Tigris berwarna hitam, sekelam tinta pada hati pelemparan buku-buku dari berbagai perpustakaan ke sungai tersebut. Wallahu’alam”. “Terlepas dari itu semua, hal terpenting yang harus kita sadari adalah betapa kerennya ilmuwan muslim jaman dulu, mereka tidak hanya menimba ilmu akhirat tetapi juga cakap dalam ilmu pengetahuan. Maka alangkah baiknya jika kita bisa meniru kegigihan mereka dalam menimba ilmu. Kita cukup belajar dengan sungguh-sungguh. Paham atau tidaknya biarlah menjadi urusan belakangan” terang bu Jilda dari depan kelas. Penerangannya tadi seolah mengandung dopamin membuatku menjadi lebih bersemangat.   Tepat setelah bu Jilda menutup kelas, baru ku sadari hujan diluar sudah mereda, hanya tersisa rintik air dari atap bangunan dan pada ujung dedaunan pohon mangga dihalaman yang berjatuhan. Aku bersiap pulang kerumah dengan perasaan yang lebih ringan. Selepas Isya, ku buka kembali catatan pelajaran tambahan hari ini. Rasanya sedikit bersalah karena tidak bisa fokus menyimak penjelasan bu Jilda. Makanya ku putuskan untuk mempelajari ulang catatan yang ku tulis tadi siang. Drrtt... Drrtt..  Notifikasi pesan masuk, dari Rais--yang tengah menjabat sebagai pacarku. Tanganku semangat membuka isi pesan yang lumayan panjang. Dia memulai pesan itu dengan kalimat maaf dan rasa bersalah. Ini terasa aneh, darahku berdesir cepat membuat irama jantung menjadi tidak stabil. Berapa kalipun ku ulang, tidak ku temukan bahwa pesan itu ada kesalahan dalam pengiriman, isinya jelas tertuju untuk ku. Ku pastikan lagi tanggal hari ini bukanlah ulang tahunku, yang berarti ini jelas bukan gurauan atau sejenisnya. “Ini maksudnya apa?” balasku cepat melalui pesan singkat. “Maaf, aku yakin kamu bisa menemukan pengganti yang lebih baik dariku. Aku nggak bisa lagi menyakiti kamu lebih lanjut, Sal” balas Rais. “Menyakiti apa maksudmu, Rais? Masalahnya apa, jelaskan dulu” aku mengetik pesan dengan terburu-buru. Satu jam … dua jam … tiga jam … Pesanku tak kunjung dibalas, nomor handphonenya mendadak tidak aktif. Sejak hari itu, Rais menghilang tanpa kabar dan untuk pertama kalinya aku merasakan sakit hati. Aku terisak tanpa suara sepanjang malam disudut kamar, hingga rasa kantuk memeluk ku--menyadarkan bahwa untuk bersedihpun juga memerlukan tenaga. Aku tertidur dengan angan bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi buruk yang sementara. *** “Aku minta maaf, Sal” ujarnya memulai percakapan. “Maaf, untuk?” “Untuk empat tahun lalu” ujarnya. Meskipun sedikit terkejut, aku berusaha tetap tenang, menjaga mimik wajah sedatar mungkin adalah pilihan terbaik. Aku mengaduk teh hangat yang ku pesan, dia melanjutkan bicara, “Dua bulan sebelum selesai masa pendidikan, aku sudah berniat mengundangmu datang bersama keluargaku, ingat, kan?” tanyanya memulai pembicaraan “Entahlah …” sahutku sekenanya, aku tidak berminat membuka luka lama ini meskipun rasa penasaranku belum pudar. “Aku selalu antusias menunggu handphone dibagikan tiap akhir pekan, bertukar kabar dan mendengarkan ceritamu lewat telepon, itu selalu menyenangkan, sampai saat ini pun aku masih merindukan momen itu” aku berdecih mendengarkan pernyataannya. “Aku tau ini terdengar klise, tapi kamu harus tahu, selama empat tahun ini aku nggak pernah melupakan kamu, Sal” aku tertawa masam. “Bullshit!” Lalu selama empat tahun itu ngapain aja? Kenapa gak pernah ada inisiatif untuk menghubungiku, sampai Whatsappkupun kamu blokir. Kalimat itu tidak bisa ku sampaikan, karena semuanya percuma. Pakde datang mengantarkan pesanan kami, bahkan aroma mie ayam yang selalu berhasil membuat produksi airliur ku membludak, sekarang terasa kering--tidak berselera. “Semua ini karena tugas, Sal” aku tertawa semakin keras, “Lucu. Gak ada tugas TNI buat nyuruh mutusin pacarnya, aku gak segoblok itu buat nelan bulat-bulat alasan kamu, Rais” sahutku sarkas. “Aku terpaksa, gak mau nyakitin kamu” ujarnya. “Justru dengan kamu memutus hubungaan tanpa penjelasan itu lebih menyakitkan” emosiku mulai memuncak. “Maaf …” dia tertunduk lesu. Aku menghela nafas panjang, “Apakah memacari adik dari salah satu anggota TNI juga termasuk tugas yang kamu maksud?” kali ini dia terkejut “Jadi, benar ya” ujarku melemah, itu cukup menjelaskan semuanya. “Itu nggak seperti yang kamu pikirkan, Sal” “Lalu?” “Aku nggak bisa menjelaskannya” Rais menunduk. Aku kehabisan kata-kata, “Sudahlah, lupakan. Lagipula itu sudah menjadi masa lalu”. Hening “Cowok tadi sore itu siapa, Sal?” tanya Rais memecah keheningan. Aku menatapnya heran, “Zico? Dia Senior di MRI” sahutku sekenanya. “Kamu gabung komunitas itu?” tanya Rais “Kenapa, ada yang salah?” “Gak papa, bergabung di komunitas kemanusiaan itu gak mudah, aku bukannya meremehkan kamu, tapi kadang mereka bisa bepergian ke lokasi-lokasi yang terpencil atau lokasi yang rawan bencana alam. Aku hanya khawatir” jelasnya. Masih belum berubah rupanya, sifat senang mengatur. Kali ini dia tidak memiliki hak untuk melarang. “Kamu nggak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN