DIA masih mengaduk-aduk minuman yang tidak tersentuh sama sekali. Aku tidak akan membuka suara sebelum dia menjelaskan semuanya. Setelah aksi diam-diaman semalaman, akhirnya dia mengajak ku bertemu untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Aku bukannya marah karena perihal alamat ku yang diberi tanpa izin. Tapi karena sahabat ku yang tiba-tiba menjadi pembela si Rais. Apa yang sudah dilakukannya hingga sahabat ku justru berbapaling dari ku. “Eng …” dia masih ragu-ragu. Aku sabar menunggunya menyelesaikan kalimatnya. “Maaf … aku nggak tau kalau Rais nekat nemuin kostan kamu. Waktu itu dia mohon-mohon sama aku untuk diberi alamat kamu buat minta maaf. Aku nggak tau persis apa yang terjadi sama kalian baru-baru ini sampai dia neror aku begitu. Satu yang jelas, dia terlihat tulus untuk memp

