BEBERAPA hari sengaja ku diamkan, selama itu juga dia tak menjelaskan. Dia bertanya-tanya akan perubahan ku yang tiba-tiba. Apa dia tidak bisa menganalisis penyebab ku marah? Sengaja handphone ku aktifkan mode silent, aku sedang tidak ingin menggubris pertanyaan-pertanyaannya. Mungkin nanti, setelah mood ku agak membaik. Aku lebih memilih nimbrung di dapur, membantu ibu. Ibu benar-benar gigih. Seminggu mungkin hampir dua kali dia membuat percobaan kue gapit, mencoba berbagai kemungkinan yang membuat kuenya tidak bisa renyah. Mulai dari menambah butir telur hingga mengencerkan adonannya. Tapi itu tidak sia-sia. Setelah empat kali percobaan akhirnya menemukan takaran yang tepat. Aku salut akan usahanya itu. Mungkin jika aku menjadi ibu, aku lebih memilih membelinya saja. “Memangnya nene

