Nadira pulang pada waktu besok sore. Langit sudah mulai terlihat menggelap saat mobil yang ia tumpangi berhenti di depan rumah. Nara berdiri di dapur, tangannya gemetar saat menuang air ke dalam gelas. Sejak menerima pesan Nadira semalam, ada rasa yang tidak tenang yang terus mengikutinya. Pintu terbuka. “Aku pulang,” suara Nadira terdengar ceria seperti biasa. “Pulang, nak.” jawab Raka dari ruang tengah. Nara keluar pelan dari dapur. “apa kamu capek?” tanya Nara. “Lumayan,” Nadira tersenyum lebar, tapi matanya bergerak cepat mengamati Ayah dan sahabatnya itu. “Kalian kelihatan serius.” ujarnya akhirnya. Raka mengangkat alis. “Serius bagaimana?” tanya Raka. “Kayak lagi ada sesuatu,” Nadira tertawa kecil, lalu berjalan masuk lebih jauh. “Rumah ini terasa aneh pada akhir-akhir ini.”

