Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Lampu yang ada di ruang tengah masih menyala dengan terang, meski rumah itu terasa kosong dan terlalu kosong untuk rumah yang seharusnya dihuni untuk tiga orang. Nara duduk di sofa dengan lutut yang dipeluk dan ia menatap pintu depan yang sejak tadi tidak terbuka lagi. Tidak ada satu pesan pun yang masuk dan tidak ada telepon yang berbunyi di ponselnya, ia selalu menunggu kabar dari Nadira, namun hanya ada sunyi yang menggantung berat di udara. Raka berdiri di dekat jendela, dengan ponsel di tangannya ia sudah mencoba menelepon Nadira berkali-kali namun tidak ada juga jawaban dan semua pesan-pesannya yang terkirim hanya centang satu. “Aku harus ke mana?” suara Nara pecah. “Dia mungkin ke rumah temannya, kan?” tanya Nara dengan air mata y

