Nara pergi saat rumah masih gelap. Bukan karena ingin menghindari siapa pun tapi karena memang sudah tidak ada siapa pun yang perlu ia temui. Pagi itu terasa terlalu dini untuk perpisahan, tapi justru itulah alasan ia memilihnya, tidak ada air mata yang harus disembunyikan dan tidak ada kata-kata yang bisa berubah menjadi sebuah alasan untuk bertahan. Ia menuruni tangga dengan perlahan, membawa satu koper kecil dan ransel tua yang sudah menemaninya sejak semester awal. Rumah itu sunyi, terlalu rapi, dan terlalu kosong, setiap sudutnya mengingatkan bahwa ia pernah tinggal di sini bukan sebagai tamu tapi juga bukan sebagai istri yang seutuhnya diakui. Di meja makan, masih ada cangkir kopi dari semalam. Raka tidak membereskannya atau mungkin ia lupa, Nara tidak tahu mana yang lebih menyaki

