Rumah Yang Sepi

1018 Kata

Raka baru menyadarinya pagi itu, ketika ia duduk di ruang makan dengan secangkir kopi yang mendingin, tidak ada langkah kaki di lantai atas, tidak ada suara pintu kamar yang terbuka dan tidak ada ucapan pelan yang biasanya datang tanpa diminta kopinya sudah jadi. Sunyi itu terasa berdengung seperti telinga yang baru saja kehilangan nada. Ia mengangkat cangkir itu, meneguknya hanya sedikit, lalu meletakkan nya kembali. Rasanya pahit atau mungkin lidahnya yang berubah. Rumah itu masih tetap sama, rapi dan luas, namun kini terasa seperti bangunan yang dibangun untuk orang lain, setiap ruangan nya seolah menunggu suara yang tidak akan kembali. Raka berdiri, berjalan menyusuri lorong menuju kamar kerja. Di dinding, ada pigura foto Nadira kecil, tersenyum dengan gigi yang belum rapi, di bawa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN