3

1009 Kata
4 Tahun yang lalu. Seorang gadis yang begitu amat sangat cantik berseragam putih biru tampak sedang tersenyum bahagia saat diboncengin oleh lelaki yang memakai seragam putih abu-abu itu. "Kak sergio sebentar lagi mau lulus SMA, kakak mau kuliah di mana emang?" tanya Saska. "Kakak mau kuliah di London Ghe, itupun kalau Kakak berhasil lolos seleksinya," jawab lelaki bernama Sergio. "Salah Kakak sendiri sih, siapa suruh kakak pintar. Seharusnya Kakak sekarang masih duduk di bangku kelas 1 SMA tau." oceh gadis itu yang tak lain adalah Saska. Lelaki yang di maksud Saska adalah Sergio Adiatama teman sekaligus cinta pertamanya. Sergio memang pandai diumurnya yang baru 16 tahun, dia sudah berhasil duduk di bangku kelas 3 SMA. Usianya hanya berjarak 3 tiga tahun dari Saska. Saska yang sekarang masih duduk di bangku sattu di sekolah menengah pertama. "Walaupun Kakak kuliah di sana jangan lupain Ghea, Kak," ujar Saska. "Mana mungkin aku bisa lupain bidadari sih." goda Sergio yang langsung membuat pipi Saska merona. "Ih kak Sergio genit deh," ucap Saska seraya mencubit pinggang Sergio. "Jangan dicubit dong Ghe, entar kalau kita jatuh dari motor gimana? tanya Sergio. "Kalau aku sampai jatuh dari motor berarti Kak Sergio harus tanggung jawab, dan Kak Sergio harus nikahin aku," ucap Saska sambil tertawa. "Kamu itu masih SMP udah mikir nikah aja." ujar Sergio lalu tertawa pelan. "Pokoknya aku cuma mau nikah kalau sama kak Sergio, Titik!" seru Saska. "Tenang aja Ghe, walaupun aku pergi ke ujung dunia sekalipun. Aku pasti bakalan kembali untuk menikahi kamu kok, percaya deh," ucap Sergio mantap. "Janji ya," ujar Saska. "Iya Ghea sayang," jawab Sergio. Setelah itu Saska langsung memeluk pinggang sergio dan mereka menikmati momen itu dengan penuh bahagia, tanpa mengetahui bahwa akan ada waktu yang memisahkan kebersamaan ini. **** Saska sedang berada di kantin bersama dengan kedua sahabatnya, begitupun Dafa dan teman-temannya juga ikut bergabung dengan mereka. "Sas, makannya pelan-pelan dong, gak ada yang mau ngambil makanan kamu kok," ujar Dafa. "Aku laper banget Sayang, soalnya tadi gak sempat sarapan di rumah," ujar Saska. "Tapi makannya pelan-pelan dong, nanti kamu keselek," ujar Dafa lembut. Saska menuruti permintaan Dafa dan memperlambat gerakannya. "Gitu kan bagus, "kata Dafa. Saska hanya tersenyum ke arah Dafa memperlihatkan lesung pipinya. "Eh Daf, nanti pulang sekolah jadi latihan basketnya?" tanya Almed sahabat Dafa. "Jadi dong, turnamen tinggal seminggu lagi, kita harus rutin latihan biar bisa menangin turnamen kali ini," ujar Dafa. "Yoi, kita pasti bisa menangin turnamen kali ini, Daf. Gue yakin banget,"sahut Julian. "Sas, nanti kamu pulang sama Violetta atau Rena aja ya, soalnya aku gak bisa nganterin. Kamu tau sendiri kalau aku selaku kapten harus bisa melatih semua anggota tim, supaya tim kita bisa menang," ujar Dafa "Iya aku bisa pulang sama dua alien ini kok, lagian kamu harus fokus sama pertandingan dan aku ngerti kok sama jabatan kamu sebagai kapten basket, semangat nanti latihannya, "ucap Saska. "Iya kamu emang pacar paling pengertian Sas," ujar Dafa sambil membelai lembut rambut Saska. "Apa lo bilang Sa? Kita berdua alien, ya udah lo gak usah balik sama kita." Rena memanyunkan bibirnya. "Bercanda kok Ren, sensi amat lo. Lagi PMS?" ucap Saska "Udah bel ini, kamu langsung balik ke kelas ya," ujar Dafa. ******** Bel pulang sekolah sudah berbunyi nyaring, Saska bersama kedua sahabatnya berjalan keluar dari kelas. "Ren, lo sama Vio duluan aja ke parkiran gue mau beliin minum dulu buat Dafa." "Ya udah gue tunggu di parkiran ya, awas kalau lama. Gue tinggalin lo! "Rena dan Vio berjalan menuju parkiran Saska melangkahkan kakinya menuju koperasi, setelah membeli air mineral Saska segera ke lapangan basket untuk menemui Dafa. "Dafa," panggil Saska. Dafa yang baru saja tiba di lapangan basket dengan membawa bola basket ditangannya langsung datang menghampiri Saska. "Kok belum pulang?" tanya Dafa. "Aku cuma mau kasih kamu ini, supaya nanti kalau kamu haus langsung bisa minum gak perlu ke kantin lagi," ujar Saska sembari menyodorkan air mineral yang sudah dia belikan. "Makasih, Sayang." "Iya sama-sama, aku pulang dulu ya Daf, kasihan Rena sama Vio kelamaan nungguin aku." "Tunggu dulu, kasih aku semangat dong Sas kayak biasa," ujar Dafa. Saska yang sudah mengerti maksud Dafa langsung menurutinya. Saska mengecup pipi kanan Dafa. Selalu begitu kemauan Dafa jika Saska tidak bisa menemaninya latihan. "Ya udah aku pulang ya, semangat latihannya sayang." Saska segera menuju parkiran untuk menemui kedua sahabatnya yang sudah menunggu. Saska bersyukur Rena tidak meninggalkan dan memilih pulang. "Lama amat sih Sas," ujar Rena. "Masa sih, perasaan gue baru nyuruh kalian nunggu sepuluh menit doang," ujar Saska. "Sepuluh menit kata lo? Kita udah nungguin lo 30 menit Sas, pasti tadi manja-manja dulu sama Dafa," ujar Vio. "Iya dong gue tadi baru aja nyemangatin Dafa biar dia semangat latihannya," kata Saska. "Ya udah yuk balik," ujar Rena. Mereka bertiga langsung naik ke mobil dan meninggalkan pekarangan sekolah, setelah sampai di depan Saska langsung turun dari mobil Rena. "Makasih ya Ren, hati-hati dijalan lo berdua." "Yoi." Rena pun segera mengendarai mobilnya meninggalkan area rumah Saska. Di halaman rumah Saska sudah terparkir satu mobil sport bewarna hitam, yang Saska yakini iadalah mobil Segio. Pasti dia sedang berada di rumah Saska. Entah kenapa cowok itu selalu datang untuk mengusik dirinya. Saska melangkahkan kakinya memasuki rumah, setelah sampai di ruang tamu Saska melihat sudah ada Sergio yang sedang berbicara dengan papa. Buru-buru Saska segera menaiki tangga untuk sampai di kamarnya. Setelah mengganti seragam sekolah, Saska langsung duduk di tepi tempat tidurnya. Sama sekali tidak berniat untuk turun ke bawah meskipun belum makan siang, biar saja perutnya sakit daripada harus bertemu dengan Sergio. Daripada merasa bosan, Saska membuka aplikasi w******p dan sebuah pesan dari Dafa terpampang paling atas. Makasih udah semangatin, aku gak ngerasa capek latihan hari ini. Semua berkat kamu sayang. Saska langsung mengetikkan balasan pesan dari Dafa. Itu udah jadi kewajiban aku sebagai pacar, aku harus selalu ngedukung kamu, begitupun juga dengan kamu yang akan selalu ada saat aku membutuhkan kamu. Setelah membalas pesan Dari Dafa, Saska memutuskan untuk tidur siang saja. Lagian tidak ada yang bisa dilakukan sekarang. Saska selalu berharap Sergio akan menyerah dan meninggalkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN