"Sesulit itukah membuatmu untuk kembali jatuh cinta kepadaku?''
------------------
Pagi harinya saat Saska ingin berangkat sekolah, di sana di ruang makan ada Sergio yang sedang berbicara dengan Arlan. Saska melangkah ke sana ingin berpamitan kepada mamanya, tapi ternyata kesialan malah menimpanya.
Sesuatu yang sangat ingin Saska hindari malah terjadi sekarang. "Sayang, kamu hari ini diantar sama Sergio ya," kata Helena.
Saska melirik ke arah Sergio dan cowok itu ternyata malah tersenyum ke arahnya, jujur Saska terpesona tapi buru-buru dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Saska tidak mau menatap lelaki itu, lelaki yang dulu pernah begitu Saska cintai dan dengan tiba-tiba malah menghilang. Sekarang dia malah datang kembali untuk meraihnya disaat Saska sudah mencintai lelaki lain, sungguh Saska benci dengan sifatnya itu. Benar-benar terlalu percaya diri dan tak punya rasa malu.
"Tapi Ma, aku mau bareng Rena, dia mau jemput aku," kata Saska berbohong.
"Bilang sama Rena kamu pergi sama Sergio, tinggal telepon aja sekarang apa susahnya," Papa Saska ikut berbicara.
"Kalau gitu aku naik grab aja, Pa. Aku gak mau ngerepotin orang lain, aku pergi dulu Ma, udah gak nafsu buat sarapan juga."
"Selangkah kamu pergi, Papa akan sita semua fasilitas kamu Sas, untuk hari ini kamu pergi sama Sergio! Papa tidak menerima bantahan dengan alasan apapun," ujar Arlan yang mampu membuat Saska terdiam.
Saska diam mencoba meredam emosinya yang sudah mencapai puncak, sungguh Saska benar-benar emosi dengan ucapan tadi, tapi untuk kali ini dia akan menurut, tapi tidak untuk hari lain. Untuk sekarang biarlah Saska mengalah, tapi bukan untuk memberikan peluang. Sekadar menghindari perdebatan dengan papanya di pagi hari.
"Sergio anterin Saska dulu, Om." Sergio menyusul langkah Saska yang sudah berjalan keluar terlebih dahulu.
"Hati-hati Sergio," kata mama dan papa Saska.
Saska melangkah ke depan dan langsung memasuki mobil sport bewarna hitam milik Sergio.
Sergio sudah duduk di kursi kemudinya, Saska segera memasang earphone di telinganya. Dia sengaja melakukan itu untuk menghindari jika Sergio nantinya mengajak Saska berbicara.
Jarak tempuh dari rumah ke sekolah adalah 15 menit tetapi ketika bersama Sergio rasanya seperti tiga abad kami tidak sampai juga ya, sebesar itukah rasa benci Saska terhadap Sergio? Untuk berada di tempat yang sama saja Saska sudah sangat muak.
Saat Saska sedang menikmati alunan musik, tiba-tiba mobil Sergio menepi di jalanan yang lumayan sepi. Apa tujuannya sekarang menghentikkan mobil di sini? Apa Sergio mau macam-macam? Tapi tidak mungkin, Sergio yang dulu Saska kenal bukan lelaki yang seperti itu. Apa yang harus Saska lakukan jika Sergio berniat macam-macam kepadanya?
Sergio menyampingkan badan menghadap Saska, dia mengulurkan tangannya untuk melepaskan earphone yang terpasang di telinga Saska.
"Ada yang ingin aku bicarakan, Sas," ujarnya.
Saska hanya diam. Dia menatap Sergio yang juga fokus menatap ke dalam matanya.
"Sampai saat ini aku masih mencintaimu, maaf kalau dulu aku pernah meninggalkanmu, aku pergi untuk kejar impian aku supaya aku bisa bahagiain kamu di masa sekarang. Kamu pernah bilang dulu kalau gak mau menikah sama lelaki lain selain aku, jadi mulai saat itu aku bertekad untuk menjadi lelaki yang berguna, aku bertekad untuk membahagiakan kamu Sas, setelah tamat kuliah dan dapat kerja yang bagus, saat itulah aku baru berani untuk menemui kamu lagi."
Sergio menarik napas sejenak. "Aku sadar kok sama kesalahan aku, karena itu aku ingin mengatakan sama kamu sekarang kalau aku sudah berhasil mendapatkan apa yang aku dan kamu mau, aku sudah sukses dan secepatnya akan menikahkan kamu, bukankah begitu janji kita dulu? aku sudah meraih setengah dari impian kita, setengah nya lagi mari kita raih sama sama Sas," ujar Sergio.
"Maaf gue gak bisa, gue udah terlanjur mencintai Dafa. Lupain gue Gio, lupain semua kenangan tentang kita, cari perempuan yang bisa lo ajak bahagia dan perempuan itu bukanlah gue. Kisah kita udah berakhir sejak kamu pergi, jangan paksa aku kalau kamu emang beneran sayang sama aku. Kebahagiaan aku bukan sama kamu lagi sekarang," ujar Saska.
"Cuma kamu perempuan yang aku cintai Sas, aku selalu menghindar setiap ada orang yang ingin kenalan. Aku cuma cinta sama kamu Sas, kamu cinta pertamaku, kamu kebahagiaanku, kamu masa depanku Sas, please aku mohon lepaskan Dafa dan kembalilah bersamaku untuk mewujudkan semua mimpi seperti apa yang dulu kita harapkan," kata Sergio.
"Maaf gue gak bisa melepaskan Dafa, apa lo tau saat lo tiba-tiba menghilang tanpa kabar, gue mencoba menutup diri dari semua orang. Sampai pada suatu hari Dafa datang untuk menemani gue, awalnya gue menolak tapi dia tetap bersabar dengan sikap gue yang selalu marah-marah sama dia, sampai akhirnya gue berhasil keluar dari keterpurukan gue ,semua itu berkat Dafa. Dia yang selalu menuntun langkah gue untuk keluar dari keterpurukan saat itu, dia yang selalu ada untuk menghibur gue di saat orang yang gue inginkan pergi entah ke mana, dia yang selalu sabar mendengar makian yang gue lontarkan terhadapnya, dan setelah menghilang selama beberapa tahun lo datang kembali dan dengan mudahnya mengajak gue untuk kembali mencintai lo?"
Saska tersenyum sinis. Situasi sekarang benar-benar terasa sangat memuakkan. "Maaf Gio, gue gak sebodoh itu, apalagi untuk menjauhi Dafa itu gak akan pernah terjadi. Karena semenjak lo memutuskan untuk pergi impian terbesar gue adalah dia bukan lo, kita berdua sudah mempunyai banyak cita-cita yang ingin diraih sama-sama, semenjak lo pergi, mimpi gue bukanlah lagi Sergio Adiatama melainkan Dafa Anggara. Dan jika disuruh memilih gue akan tetap lebih memilih Dafa, dia lelaki yang sekarang gue impikan, dia adalah masa depan gue sedangkan lo? Lo hanyalah orang asing yang tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa lo akan dijodohkan sama gue, lelucon macam apa itu? Pergi dan menjauhlah Sergio, karena sampai kapanpun, gue akan tetap memilih Dafa, lo hanyalah bagian dari masa lalu yang sudah gue lupakan sejak lama."
"Kenapa sulit sekali untuk mendapatkan kamu kembali, Sas?" tanya Sergio.
"Karena lo datang di waktu gue sudah menemukan lelaki yang tepat, mulai sekarang berhentilah mencintai gue. Masa depan lo bukanlah gue lagi. Gue hanyalah bagian dari masa lalu yang gak akan bisa kembali sama lo lagi sebanyak apapun usaha yang lo lakukan. Lupakan gue seperti yang gue lakuin, gue yakin lo bisa Gio. Kita udah lama gak bareng, pasti bakalan mudah cuma sebatas melupakan."