2

1004 Kata
Sinar matahari sudah masuk melalui celah jendela kamar, seorang gadis cantik mulai bergerak di tempat tidurnya. Matanya terasa berat saat dia paksakan untuk terbuka dan kepalanya pun terasa pusing karena terlalu banyak meminum alkohol tadi malam. Tenggorokannya terasa sangat pahit sekarang. Setelah berusaha untuk bangun dari tidurnya, gadis itu pun mengedarkan pandangannya ke ruangan yang sedang di tempati saat ini. "Oh jadi Dafa beneran nganterin ke apartemen," batin Saska seraya mengembuskan nafas lega. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan artinya dia tidak masuk sekolah hari ini. "s**t, semua gara gara perjodohan ini." Saska membatin. Saska pun turun dari ranjangnya untuk meneguk segelas air putih, dan segera ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Saska pun berniat untuk pulang ke rumahnya. Meskipun dia tidak tau akan ada hal apa di rumah nantinya. ****** Saska sudah sampai di rumahnya dan segera masuk ke dalam rumah tersebut. Baru beberapa langkah berjalan, papanya yang hendak berangkat ke kantor muncul dan menatap Saska tajam. "Dari mana aja kamu jam segini baru pulang ke rumah? Keluyuran sampai lupa waktu, bahkan kamu gak masuk sekolah hari ini. Benar-benar kelewatan Saska, Papa gak pernah suka dengan perempuan yang nakal seperti ini," ucap Arlan. "Masih baik aku mau pulang ke rumah setelah apa yang Papa lakukan sama aku. Harusnya Papa bersyukur aku masih hidup dan gak bunuh diri," jawab Saska. "Papa jodohin kamu itu demi kebaikan masa depan kamu Saska!" bentak Arlan. "Aku gak akan pernah bisa terima itu semua Pa. Aku gak mau dijodohin sama orang yang enggak aku suka, aku bisa milih sendiri siapa yang cocok untuk masa depan aku, Pa," ucap Saska. "Kalau kamu gak mau dijodohkan dengan Sergio sesuai permintaan Papa, jangan harap kamu bisa kuliah di London!" tegas papanya. "Aku lebih baik gak kuliah di sana daripada harus dijodohkan dengan orang asing yang baru aku kenal beberapa jam kemarin," jawab Saska lagi. "Dia itu bukan orang asing, Sas. Dia orang yang pernah kamu cintai, dia cinta pertama kamu yang dulu selalu kamu ceritain sama Papa, Mama dan Kak Celia. Apa kamu lupa sama dia? Secepat itu, Papa tau kamu masih sangat mengingat dia" ucap Arlan. "Cinta pertama? maaf aku gak pernah mencintai lelaki lain selain Dafa." Saska lalu berjalan menaiki tangga dan segera masuk ke dalam kamarnya. ***** "Cinta pertama? Siapa sebenarnya yang papa maksud? Apa dia lelaki yang pernah gue kenal dulu. tapi gak mungkin! Sergio yang gue kenal dulu dia sekarang tinggal di London jadi gak mungkin kalau dia ada di sini sekarang. Kalau pun dia Sergio yang gue kenal, gue gak akan pernah maafin dia. Dia pernah meninggalkan gue tanpa pamit di saat gue udah terlanjut jatuh hati sama dia. Gue gak mau ulang kisah yang sama, karena gue udah tau seperti apa ending yang akan gue dapatkan nantinya." batin Saska semakin menolak jika Sergio itu adalah orang yang sama. Tok...tok...tok.. Suara ketukan itu membuyarkan lamunan Saska, dia pun berjalan mendekati pintu kamarnya dan langsung meraih knop dan membuka pintu. "Ada apa, Ma? Mau marahin Saska juga karena gak masuk sekolah hari ini?" tanya Saska. Mamanya langsung menggeleng, karena ucapan Saska salah menebak. "Ayuk turun ada yang mau ketemu sama kamu. Kasihan dia udah nunggu." Tak seperti biasanya Saska menuruti kemauan Helena, cewek itu berjalan mengikuti langkah kaki ibunya dan mereka tiba di ruang tamu. "Ngapain lo di sini? Masih punya nyali juga ternyata sampai gak mau nyerah," ucap Saska setelah melihat siapa yang ada di depannya saat ini. Seseorang yang sudah menghancurkan dan mengubah alur hidupnya dalam sekejap kemarin. "Saya cuma mau menemui calon istri saya," ucap Sergio dengan tenang. "Calon istri? Siapa juga yang mau sama lo. Jadi gak usah kepedean deh, mendingan lo pulang terus jauh-jauh dari gue. Ilfeel tau gak," jawab Saska. "Ghea," panggil Sergio lembut. Deg Hati Saska terasa disetrum saat Sergio memanggilnya dengan sebutan itu. Nama itu panggilan khas Sergio yang dikenalnya dulu. Apa benar Sergio yang berdiri di depannya ini adalah Sergio yang dia kenal dulu? Jika benar iya apa yang harus Saska lakukan. "Stop panggil gue dengan sebutan itu, gue gak suka," ujar Saska. "Kamu masih ingat aku 'kan, Sas? Aku di sini sekarang buat kamu," ujar Sergio. "Gak! Gue gak pernah kenal sama lo, Sergio yang gue kenal dulu udah mati bersama kenangan yang dia tinggalkan. Gue gak pernah anggap Sergio itu ada karena dia dengan gak punya perasaan meninggalkan gue yang udah terlanjur jatuh hati sama dia. Tapi dengan seiring berjalannya waktu gue udah bisa lupain dia di saat Dafa selalu ada di samping gue. Dafa selalu setia berada di samping gue untuk membimbing gue agar keluar dari keterpurukan itu, dan lo itu Sergio yang baru gue kenal dua hari yang lalu, lo itu Sergio asing yang tiba-tiba datang dan masuk tanpa izin ke kehidupan gue dan ingin merusak semuanya." tegas Saska. "Gue kembali untuk bahagiain lo, Sas." ucap Sergio masih dengan nada tenang. "Gue gak akan mau membaca buku yang sama untuk kedua kalinya karena udah tau apa ending dari cerita di buku itu, begitu pun dengan kisah ini gue gak mau kembali jatuh hati sama lo! Karena pada ujungnya gue udah tau kalau lo pasti bakalan tinggalin gue lagi. Mau lo Sergio dulu, atau Sergio yang baru gue kenal. Maaf, gue gak bisa ninggalin cowok baik kayak Dafa demi orang kayak lo," ucap Saska lalu berlari menuju kamarnya. "Nak Sergio sabar ya, mungkin Saska belum bisa menerima semua ini, dia butuh waktu untuk kembali seperti dulu." ucap Helena menenagkan Sergio. "Gak apa-apa kok, Tan. Ini semua salah saya, saya yang sudah buat Saska seperti ini. Jadi saya akan berusaha untuk membuat Saska kembali seperti dulu, itu janji saya, Tan." "Iya tante percaya sama kamu kok. Tante akan selalu mendukung kamu dengan Saska," jawab Helena. "Sergio pamit dulu ya, Tan. Maaf pagi-pagi sudah datang dan menganggu kenyamanan." "Tidak Sergio, kedatangan kamu gak ganggu sama sekali kok. Sering-sering datang ke sini supaya Saska terbiasa dengan kehadiran kamu," ucap Helena. "Baik Tante, kalau begitu Sergio pamit pulang dulu." Sergio menyalami Helena dan berjalan meninggalkan rumah Saska.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN