“Aku akan menunggu Kirana di sini, sebelum kita bicara,” kata Wana lalu tidur di samping Kala. Membuat remaja itu tak suka dan tegak pada duduknya. “Tidurlah di kamar Andika!” teriaknya. Wana bersikukuh dan tak menggeser tubuhnya. “Diamlah, aku ingin tidur di samping adikku,” godanya semakin membuat Kala cemberut. “Pergilah!” Kala menendang kakaknya itu, tapi Wana diam di sana. Kemudian Wana menarik Kala untuk berbaring dan menguncinya agar tak berontak. “Mari, tidur dalam damai seperti dulu, saat kamu takut akan petir yang menggelegar,” bisiknya. Kala akhirnya diam, menikmati pelukan dari kakaknya yang dulu dia cari kalau malam berhujan dan petir menggelagar. Berlindung di balik tubuh Wana dan meringkuk di sana sampai tertidur karena merasa aman. “Bila, tinggal kita bertiga, apakah

