Ki Sapto membawa mereka ke gandok sebelah kiri, untuk berbicara dengan keempat orang yang akan menjalani ruwatan itu. “Jadi begini, sebagaimana dengan adanya ruwatan ini tujuannya adalah untuk membuang kesialan. Sendang kapit pancuran, menjadi salah satu susunan yang harus itu diruwat sesuai dengan adat Jawa.” Ki Sapto memandang satu per satu dari mereka. “Saya, hanya ingin berbicara sesuai dengan porsi saya sebagai seseorang yang akan memimpin jalannya acara ini.” Ki Sapto melanjutkan perkataannya. Danar mengangguk-angguk. Sementara ketiga anaknya hanya mendengarkan pembicaraan berat itu. “Hidup itu, penuh dengan tantangan, masalah dan semua hal yang tidak melulu baik. Benar dan salah itu adalah hal mutlak, kita manusia diberi akal budi untuk bisa melangkah sesuai dengan takdirnya.”

