Kala menatap jendela pagi itu, Wana sudah seminggu meninggalkan rumah, mengemban misi yang Kala sendiri tak tahu. Kirana, juga sama. Kemarin dia berangkat, menuju luar negeri untuk melaksanakan misi. “Kal, aku boleh masuk?” tanya Dewi. “Ya,” jawabnya singkat tanpa menoleh. “Kal, Tuan Danar ingin berbicara denganmu.” Dewi berdiri di samping tubuh jangkung Kala, menatap jendela. “Hari ini, aku ingin keluar. Apakah ada yang harus kulakukan?” desis Kala. “Jangan sering keluar. Tuan Danar sudah mulai curiga,” kata Dewi. “Andika selalu bersamaku,” sergah Kala tak suka. Dewi menghela napasnya. Dia tak bisa terlalu mengekang, Kala. Pertumbuhan jiwanya sangat bebas, berbeda dengan kedua kakaknya. Peristiwa lima tahun yang lalu, membuatnya benar-benar meluapkan emosinya tanpa berpikir panja

