Kala memarkir mobilnya di depan gedung yang tidak pernah dia tahu. “Benar di sini?” tanyanya ragu, karena gedung itu terlihat kusam dan tua. “Tuan hanya memberimu ini,” kata Andika. Kala mendengus, tapi mau tak mau dia menerima juga, karena ini adalah risiko yang harus dia terima saat keluar dari rumah. “Masih beruntung Pak Tua itu memberiku rumah dan akses ATM,” lanjutnya menggermang. “Nah, itu tahu,” balas Andika seraya tertawa. Kala melangkah mengikuti Andika menuju lantai tiga. Kamar paling ujung yang memiliki akses balkon belakang adalah kamarnya. “Kapan mereka mempersiapkan ini?” tanyanya heran saat kamar itu sudah siap. “Kamu meragukan kecepatan perintah Tuan Danar?” ledek Andika. “Hah,” desah Kala malas. “Aku akan ada di bawah jika kamu mencariku. Di kafetaria,” kata Andi

