Cincin yang Tak Sama

1159 Kata

Artika menahan tangan Arju, jemarinya mencengkeram erat seakan tak mau kehilangan lagi. Matanya bergetar hebat, bibirnya bergetar, namun kata-kata akhirnya meluncur parau. “Aku kira kamu semakin membaik…” suaranya bergetar, “ternyata aku salah. Kamu semakin tega, Kang!” Kalimat itu seperti pecah dari relung hatinya. Dan seketika pikirannya terseret deras, kembali ke kenangan indah yang tak tergantikan—kenangan bersama Abim yang asli, yang keberadaannya bahkan belum ia sadari kini telah sirna. Suasana malam di Lembang kala itu terasa seperti potongan dongeng. Angin pegunungan yang dingin membelai kulitnya, bercampur dengan hangat cahaya lampu temaram restoran yang memantul di kaca jendela besar. Dari sana, gemerlap lampu kota di kejauhan terlihat berpendar seperti ribuan bintang yang jat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN