Bimbang

1199 Kata

Subuh masih menggantungkan sisa kabut di pinggiran kota Bandung. Jalanan lengang, hanya sesekali suara motor melintas di kejauhan. Udara dingin menusuk tapi juga menenangkan—setidaknya bagi orang yang hatinya tidak seruwet Arju pagi itu. Langkah kakinya menghentak aspal dengan ritme cepat, sepatu lari memecah genangan tipis yang ditinggalkan embun malam. Rambutnya setengah basah, sebagian karena keringat, sebagian lagi karena ia terburu-buru keluar rumah tanpa benar-benar mengeringkan kepala. Napasnya terputus-putus, tapi ia terus memacu langkah, seolah berlari bisa mengalahkan pikirannya sendiri. “Akh!” desisnya di antara hembusan napas. Ia masih memikirkan kejadian semalam. Kenapa ia melakukannya? Kenapa ia tidak bisa menahan diri? Hanya karena satu kesimpulan acak yang melintas di k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN