"Kamu bukan Abim, ya?" Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Surya, datar, tanpa tekanan, tanpa tendensi, seperti mengucap kebenaran yang tidak sengaja ia petik dari langit. Namun bagi Arju, yang tengah berpura-pura menjadi saudara kembarnya sendiri, suara itu menggema seperti palu godam yang menghantam dadanya. Seketika tenggorokannya terasa kering. Ia bahkan tak sanggup menelan saliva yang menggumpal. Suasana sekeliling jadi senyap mendadak, hanya terdengar suara detak jantungnya sendiri yang melonjak tajam. Sosok pria tampan di hadapannya itu duduk tenang, tapi mencurigakan. Tatapan matanya tak fokus, bergulir ke kanan dan kiri, seperti menatap dunia dalam cara yang tak bisa dimengerti Arju. Tapi ekspresinya jujur. Terlalu jujur. Jari-jarinya terus bergerak acak, seperti memeti

