Sembilan

836 Kata
"Sir, Nona Helena ingin bertemu." Richard berdecak, tapi tetap menyuruh sekretarisnya membawa Helena masuk ke ruangannya. "Aku sangat sibuk." Cetusnya, padahal b****g seksi Helena belum menyentuh sofa mahalnya dengan sempurna. "Terima kasih, aku lebih suka teh dari pada kopi." Sindir Helena kesal. Dia memutar bola matanya malas melihat Richard yang sama sekali tidak terusik dengan sindirannya. "William." Panggilnya. "Hm?" "Kemarilah, kau tahu aku tidak akan pulang sebelum mendapatkan jawaban darimu." "Memangnya kau butuh jawaban apa lagi? Aku sudah memberitahu kalian kemarin." "Masih belum cukup. Kemarin Olivia tiba-tiba muncul dan kau tidak mau melanjutkan ceritamu lagi." "Sekarangpun begitu, jadi lebih baik kau pulang saja." Helena tidak akan menyerah begitu saja. Jadi dia mencari akal untuk meneruskan recananya. "Apa dia sehebat itu di ranjang sampai kau mau memakainya lebih dari sekali?" "Pulang, Helen." "Olivia seluar biasa itu, ya?" "Terserahlah." "Ya, p*****r berkelas seperti Olivia pasti..." "Helena!" Wajah Richard mengeras sedangkan Helena tersenyum senang. Kena kau! Helena melipat kedua tangannya di depan d**a. "Jadi... kau sudah jatuh cinta padanya?" Richard memejamkan matanya dan menghembuskan napas berat. Kapan dia bisa bebas dari Helena. "Tidak. Aku tidak jatuh cinta." "Kau tahu sebanyak apa aku mengenalmu, kan, William?" Helena menggelengkan kepalanya putus asa. "Jawab aku dengan jujur!" Richard menghampiri Helena, duduk disamping gadis itu sejenak sebelum berbaring dengan beralaskan paha lembut Helena. Dia memejamkan matanya erat. Nyaman. Selalu nyaman berada di sisi Helena. Jangan heran melihat keakraban mereka. Selain bersahabat, mereka pernah menjalin cinta selama empat tahun tetapi berakhir karena Helena yang sudah tidak bisa lagi bersabar dengan segala rahasia pelik yang Richard miliki dan tidak bisa dia bagi pada siapapun selain Alex, asisten pribadinya sejak dia berumur tujuh tahun. Tidak ada yang tahu kedekatan spesial mereka di masa lalu selain Alex. Bahkan tidak kekasih Helena sendiri. Dan meski sudah berakhir, mereka memang masih sering bertemu diam-diam berdua untuk mengobrol seperti ini. Ya, hanya mengobrol dan melakukan beberapa skinship seperti berpelukan, itu saja, selebihnya tidak ada. Karena Richard sangat menghormati kekasih Helena dan juga Helena yang memang tidak berani meminta lebih. "Jadi...?" Helena masih menunggu. "Awalnya dia pelacurku. Tapi... karena aku merasa dia berbeda, jadi aku ingin menjadikannya milikku." "Milikmu?" "Hm, diatas ranjang." Helena terkekeh. Tangannya bermain di atas rambut Richard. "Berapa lama?" "Entahlah, sampai nanti aku bosan, aku akan melepaskannya." Helena tidak tahu mengapa masih saja dia merasa lega karena mendengar jawaban Richard seperti itu. Mereka masih diam dalam keheningan. Richard yang menikmati belaian Helena dan juga Helena yang menikmati wajah Richard di pangkuannya. "Ah, aku harus pergi." Richard berdiri tegak dan melirik arlojinya. Lalu dia berjalan terburu-buru untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Olivia. "Lima belas menit lagi aku sampai. Bersiap-siaplah, kita makan siang di luar." Helena mengamati Richard dalam diamnya. *** "Apa tidak sebaiknya kita mengajak Alex ikut makan siang bersama kita?" Tanya Olivia saat mereka sedang berada di dalam lift menuju lantai sembilan, sebuah ruangan privat yang di boking Richard sebelumnya. "Dia sudah makan siang." Jawab Richard singkat. "Oh ya, kapan? Sepertinya Alex selalu mengikutimu kemanapun. Aku sering memerhatikannya, kapanpun kau ingin pergi, hari apa, pukul berapa, dia pasti selalu ada. Aku jadi sering berpikir, apa Alex tidak lelah? Apa dia tidur dengan cukup? Dia sudah makan?" Ekor mata Richard melirik tidak senang mendengar kecemasan Olivia pada Alex. "Pekerjaannya memang seperti itu sejak dulu, Olivia."geramnya tertahan. "Ya, tapi dia itu tetap saja manusia yang butuh istirahat, Rich..." protes Olivia. Richard sudah tidak tahan lagi mendengarnya. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Alex, tidak lupa menekan tombol speaker agar Olivia juga mendengarnya. "Ya, sir? Apa yang anda butuhkan?" "Kau sudah makan siang?" Tanya Richard setengah membentak. Alex diam di ujung sana selama beberapa saat, "Ya, sir, saya sudah makan siang." "Tidurmu cukup? Kau butuh istirahat?" "Maaf, sir?" "Jawab saja, Alex!" "Ya, saya baik-baik saja." "Bagus." Sambungan terputus dan Richard sudah menatap Olivia dengan wajah kesal. "Puas? Ada lagi yang harus kulakukan untuknya?" Olivia menatap kekesalan Richard tidak mengerti. Mengapa dia kesal padanya? Memangnya apa salahnya? Tapi Olivia hanya menggelengkan kepalanya bingung. Dia jadi memikirkan sesuatu. Apa karena hasratnya yang sudah lama tidak terpenuhi, Richard jadi aneh seperti ini? Olivia terkekeh geli tanpa sadar. "Kenapa?" "Tidak ada." "Kau pernah kemari sebelumnya?" Bertepatan dengan itu pintu lift terbuka. Olivia menganggukan kepalanya. "Sering. Apa lagi di lantai ini. Pelangganku sering memesan satu ruangan privat untuk makan dan bercinta. Apa kita juga akan melakukannya?" Langkah mereka terhenti. Richard menahan kekesalannya, lagi, dengan rahang mengeras. "Kalau begitu kenapa tidak sejak tadi kau katakan padaku, Olivia?" "Ingat siapa yang baru saja bertanya?" Richard ingin marah, sungguh. Tapi dia tidak mau mengacaukan hari ini. Dia dan Olivia sudah lama tidak bercinta, dia tahu harus menahannya sampai satu minggu dan siang ini dia bermaksud paling tidak bisa b******u sepuasnya bersama Olivia. Tapi apa yang dia pikirkan ternyata salah! Olivia sudah sering ketempat ini bersama lelaki lain dan itu melukai egonya. Dia tidak mau ketempat ini lagi. "Ayo!" Richard sudah menyeret pergelangan tangan Olivia. "Kita mau kemana?" "Terserah padamu. Kemana saja, asalkan kau tidak pernah membawa salah satu bajinganmu ke sana." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN