Queeny dan PTSD II

2317 Kata
Sementara Queeny yang di penuhi dengan pertanyaan soal siapakah Aaron sebenarnya, di tempat lain Aaron tengah bersama dengan Will saat ini. “sudah ku katakan padamu untuk jangan mendekatinya… kau ini benar-benar tak pernah bisa mendengarkan adik iparmu ini” Aaron sudah menceritakan apa yang terjadi pagi ini saat di tempat gym pada Will, termasuk juga tentang Queeny dengan obat-obatan PTSD-nya. Meskipun Will sebenarnya sudah mengetahui soal kondisi Queeny yang seperti itu saat ia di mintai Aaron untuk mencari tahu soal data milik Queeny, tapi Will tak tahu kalau ternyata sudah sampai separah itu kondisi PTSD yang dideritanya. kini keduanya juga tengah memegang data tambahan yang baru saja di terimanya soal kondisi mental Queeny yang di dapatnya dari salah satu rumah sakit yang merawatnya. Laporan Kasus yang berjudul: POST TRAUMATIC STRESS DISORDERS (PSTD) WITH SEVERE PEPRESSION SYMTOMS WITH ACUTE PSYCHOTIC IN PATIENT 22 YEARS OLD WOMEN: A CAST REPORT ILLUSTRASI KASUS Pasien datang dengan keluhan utama mendengar suara yang selalu menyuruhnya untuk bunuh diri. Pada saat pasien datang ke poli klinik pertama kali, Pasien terlihat menggunakan jaket hitam dan celana hitam juga topi yang kemudian di bukanya sampai menampilkan rambut kusut yang tak terawat. Pasien berperawakan tinggi 168 dengan berat 44 kg. ketika sesi konseling di mulai dengan mengajukan pertanyaan pertamanya dengan menyakan siapa nama lengkapnya dan data dirinya, pasien bisa mengatakannya dengan benar namun suaranya teedengar tidak jelas dan terkesan sangat ketakutan saat menjawabnya. Pasien terlihat sering menoleh kebelakang dan bergumam sendiri. Selain itu pandangan pasien terlihat sangat jauh. Ketika konseling sedang berlangsung, pasien jarang mau mengadakan kontak mata dan kebanyakan hanya murung, termenung. Beberapa kali pasien tiba-tiba berdiri dan langsung mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan sambil memegangi kepalanya, menutupi kedua telinganya. Ketika ditanya apa keluahannya, pasien menjawab bahwa dia sering mendengar suara yang menyuruhnya untuk bunuh diri. Suara itu muncul saat ia sedang sendiri jelasnya, “terdengar seperti seorang wanita yang tengah meneriaki saya agar saya mati saja, kau tak pantas hidup setelah membunuhku begitu terdengarnya” ungkapnya. Konselor kemudian bertanya kembali sudah berapa lama gejala itu terjadi. Pasien kemudian menjawab sekitar satu tahun lalu, beberapa bulan semenjak kejadian yang sangat mengenaskan yang menimpa sahabatnya. Pertanyaan lalu kembali di lanjutkan konselor. “apa anda yakin mendengar suara itu?” “saya yakin sekali karena suaranya sangat keras sekali menyuruh saya untuk mati saja. terkadang seseorang seperti mengarahkan saya untuk mengambil pisau untuk menyayat tangan saya sendiri” Pertanyaan konselor di lanjutkan dengan apakah suara wanita itu masih terdengar saat ini. pasien kemudian menggelengkan kepalanya lemah. “tapi tadi malam dan sebelum pergi ke sini, ia meneriaki saya kembali menyuruh saya menyayat diri atau melompat saja dari gedung apartemen saya. Dia bahkan membuat saya tak bisa tidur setiap malam” “apa anda pernah melakukan apa yang di perintahkannya” Pasien kemudian menunduk lama untuk menjawab pertanyaan yang diajukan konselor, dan setelah itu ia menunjukan luka sayat di tangannya yang sudah mengering. Ada tiga garis sayatan yang cukup dalam disana. “tiga kali menyayat tangan kiri saya, dua kali overdosis obat tidur, dan satu kali percobaan bunuh diri di laut selatan musim lalu” Pasien menjawab dengan nada yang bergetar, dan tak lama kemudian tertunduk dan menangis. “anda tahu suara siapa itu?” Pasien hanya diam saat konselor menanyakan soal suara-suara yang selalu di dengarnya itu. “itu seperti suara dirinya, tapi dia tak mungkin melakukan itu pada saya. Dia sahabat saya yang tak sengaja saya lukai saat pertarungan, bahkan di akhir napasnya ia berkata bangga pada saya yang bisa menang mengalahkannya di ring hari itu, dan kepergiannya bukan salah saya, tutupnya. Tapi- tapi kenapa saya.. saya harus di hantui oleh bayang-bayang dirinya yang menyuruh saya untuk mati” Konselor kemudian menanyakan kembali benarkah itu suara sahabatnya. “meski saya berusaha menyngkalnya, itu benar suara dirinya. bahkan dalam mimpi saya, saya selalu kembali pada saat pertarungan hari itu, saya selalu milaht dirinya yang sedang terbaring di ring tak berdaya setelah mendapat pukulan kuat karena tangan saya ini, ia lantas bangun dengan berdarah-darah dan membentak saya kenapa saya sampai membunuhnya, saya harus mendapatkan balasan untuk itu” Jelas pasien. Di tambahkannya juga, bahwa dirinya selama ini tak bisa tidur, dan jikapun pasien sudah kelelahan sampai ingin tidur beristirahat, pasien harus meneguk banyak alcohol dan obat penenang lebih dulu. “saya mengalami tremor di tangan saya dalam satu tahun ini setelah membuatnya pergi dengan kesakitan hari itu. bahkan saya pernah memukul tangan saya ini dengan batu sampai tulang saya mengalami keretakan, saya pikir tangan saya ini harus mendapat balasan telah membuatnya mati” Konselor melanjutkan dengan menanyakan apa lagi yang di lakukannya selain yang pernah di lakukannya itu “saya kembali naik ke ring pertarungan, karena saya pikir di sanalah letak masalahnya, jadi saya naik ring dan selalu kalah dalam pertarungan. setiap saya akan mulai melayangkan pukulan pada lawan, wajah dirinya selalu muncul sampai pukulan saya itu selalu meleset. Saya pada akhirnya selalu mengalah di setiap pertarungan, sedikit berharap saya bisa merasakan sakit yang sama ketika ia kesakitan karena ulah saya sebelum kematiannya..saya pikir merasakan sakitnya di habisi saat pertarungan adalah cara terbaik untuk menunjukan rasa bersalah saya padanya.. bahkan mungkin semua ini akan berakhir dengan baik jika saya juga bisa mati seperti dirinya, yang mati saat pertarungan karena saya” Konselor kembali bertanya soal rutinitasnya selama ini yang mungkin terganggu karena suara-suara yang didengarnya itu. Pasien menjawab, semula pasien menanganinya sendiri, tapi kemudian seorang pria yang di katakan cukup dekat dengannya menyadari sikapnya yang berubah aneh, hingga pasien menceritakan keadaannya itu. pria itu jadi cukup memperhatikannya dan sedikit bisa menenangkannya. Kesehariannya masih berusaha di jalaninya, pekerjaannya yang sebagai instruktur di pusat kebugaran juga masih di jalaninya. Meski menurut penuturannya tubuhnya menjadi sangat lelah dan tak b*******h. Tetapi pasien tetap berusaha menjalaninya. Aktifitasnya saat ini hanya mempersiapkan diri ke ring dan selalu di larikan kerumah sakit setelahnya karena pertarungan yang tak bisa di menangkannya. Dan itu sudah di jalaninya selama enam bulan terakhir. Pasien juga mengaku sejak di hantui suara-suara itu jadi tak ingin makan, bahkan beratnya secara signifikan terus mengalami penurunan, masa ototnya semakin berkurang. ini sangat berpengaruh buruk pada kesehatannya yang juga merupakan seorang petarung di ring. Pasien menceritakan bahwa selama ini dirinya mencoba bertahan dengan semua obat yang di belinya secara illegal dan resep dokter dari seorang teman. Namun hari ini pasien memutuskan untuk datang ke poli klinik ini dengan kemauannya sendiri, karena ia membutuhkan seorang professional yang bisa membantunya. Selain itu ketika pasien di suruh menyebutkan benda-benda yang telah saya sebutkan yaitu: anjing, apple, dan kandang, setelah beberapa saat pasien dapat mengulang kembali kata-kata tersebut dengan benar. Saat di tanya tentang hasil pengurangan pasien dapat menjawab dengan benar meskipun sangat lambat, Selanjutnya saat di tanya kemana arah jalannya setiap hari menuju tempatnya bekerja, pasien masih menjwab dengan benar, selain itu pasien juga dapat menjawab perbedaan antara anjing dengan kambing. Dari pemeriksaan fisik di dapatan kesadaran compos mentis, tekanan darah 100/70 mmhg, nadi 60 kali per menit, pernafasan 13 kali per menit. Status neurologi dalam batas normal. Sedangkan status psikiatri di dalpatkan sebagai berikut: Kesan umum: penampilan tidak wajar, roman muka lebih muda tampak sedih, kontak verbal dan visualdengan pemeriksa cukup, sensorium dan kognisi, kesadaran: kadang jernih kadang tidak Orientasi: baik Daya ingat: segera: cukup, jangka panjang: cukup Intelegensi: sesuai pendidikan Perhatian: menurun Berpikir abstrak: baik Afek: appropriate/eutimik Proses pikir, bentuk pikir: nonlogis, nonrealism, Arus pikir: cukup koheren Isi pikiran: waham ada Persepsi: halisinasi auditorik ada, ilusi terkadang, Dorongan instingtual: insomnia ada, hipobulia ada rampus ada Psikomotor: cukup tenang saat pemeriksaan Tilikan: 6. Pasien di diagnosis dengan: Post Traumatic Stress Disorders (PTSD) Dengan gejala: depresi berat dengan gejala psikotik, Saat pulang pasien di berikan obat berupa Flouxetine 20 mg 1 kali sehari, clozapine 25 mg 1 kali sehari di minum lama hari, clobazam 10 mg di minum pagi hari, pasien di jadwalkan control kembali setelah dua minggu pengobatan. Terapi non farmakologi berupa konseling dan psikoterapi. … … Laporan dua tahun lalu milik pasien dengan nama yang tertera disana, Queeny Lee, 21 tahun. Yang bararti itu adalah hasil pemeriksaannya satu tahun yang lalu. semua itu telah selesai di baca oleh Aaron. Ia sangat tak menyangka dengan kondisi Queeny yang seperti itu. ia juga membaca catatan perkembangan pemeriksaannya sampai sesi konselingnya terakhir kali, sayangnya ia tak bisa melihat adanya perubahan kearah kesembuhan. “berterimakasihlah padaku yang telah berhasil mencuri data konselingnya… aku benar-benar jadi seorang criminal untukmu Aaron” Ucap Will. Aaron tak menjawabnya, ia masih terus menatap data-data Queeny dengan pandangan kosongnya. “hhhh…ini pasti sangat berat untuknya” Kemudian ia menunduk, wajah murungnya kini tengah di tekuknya. Ia di penuhi perasaan dilema setelah mengetahui konsdisi Queeny yang sangat sangat tak baik-baik saja itu. tentu ia tak ingin dan sangat tak memungkin untuk menyeret Queeny dengan keadaannya yang seperti itu masuk kedalam hidupnya yang sudah cukup rumit dengan drama perusahaan juga keluarganya yang penuh dengan persaingan, perebutan harta dan kekuasaan. “seseorang yang memiliki trauma seperti itu, biasanya akan sulit untuk membuka diri pada orang lain Aaron, terlebih kau ini juga hanya memanfaatkan agar dirinya bisa terus mendonorkan darahnya padamu saja bukan? akan seperti apa jadinya saat ia tahu kau mendekatinya hanya karena membutuhkannya saja… kau hanya akan menambah luka saja di hidupnya” Tambah Will, membuat Aaron semakin terjepit dan dilema saja. semua orang di sekitarnya mendesaknya untuk mundur dari usahanya untuk mendekati Queeny. “dia adalah prospek yang paling sempurna jika tanpa traumanya itu Will, dimana lagi aku bisa menemukan wanita sepertinya, cantik iya, kuat iya, ia bisa mendonorkan darahnya untukku, ia adalah manusia yang bisa ku beli untuk menjadi istriku seperti apa yang ayahku inginkan” “pertimbangkanlah lagi.. aku akan membantumu untuk mencari orang lain” “ah.. nanti malam kita jadi ke Devil Ring, kau siapkan 700-900 ribu dolar saja” Ucap Will mengingatkan Aaron soal Devil Ring. “kenapa tak sekalian saja 1 juta dolar, kau ini membuatku harus mengahbiskan semua uang-uangku itu hanya untuk hal konyol seperti itu...” “kau mungkin akan menghabiskan lebih banyak jutaan dolarmu jika sampai kerja sama perusahaan dengan di wali kota korup itu benar-benar terjadi.. itu akan jauh lebih konyol Aaron” Aaron harus rela merogoh uangnya untuk perjudian seperti itu karena kekacauan yang Jennie lakukan. “hhh.. tak bisakah kau jaga istrimu dengan lebih baik, maksudku jangan biarkan dia membuat kegilaan seperti ini..” Pinta Aaron pada Will, “Adikmu itu sungguh bukanlah istri yang bisa ku kendalikan.. bahkan untuk urusan ranjang sekalipun eerrr…dia kuat sekali, aku angkat tangan padanya” “ah aku jadi ingat, aku juga harus meminta obat kuat dari Lisa.” Ucap Aaron tiba-tiba. “kau.. apa kau berencana untuk meniduri wanita dan bertarung di ranjang juga sampai harus meminta obat kuat dari doktermu itu??” “bukan Will, karena aku sudah terlanjur mendaftar di tempat gym itu dan Queenya adalah instruktur pribadiku mulai saat ini. aku tak ingin tampak lemah di hadapannya” Ucap Aaron. “kupikir kau akan meminta obat kuat dan menjadi sama liarnya seperti adikmu ketika di ranjang” “honey…kau membicarakan urusan ranjang pada kakakku ..emh?” Tiba-tiba saja Jennie muncul dan ikut kedalam pembicaraan antara kakak tirinya dan suaminya itu. “ah.. kau sudah datang” Aaron, Will dan Jennie memang tingggal di rumah besar keluarga Scoth, meskipun pada akhirnya mereka selalu pergi keluar dari di rumah itu dan lebih memilih menginap di hotel atau apartemen mereka masing-masing. tapi karena ini weekend jadi mereka selalu menginap di rumah itu untuk bisa setidaknya bertemu dan makan bersama dengan sang ayah. “jangan katakan soal rahasia ranjang padanya atau dia akan kelayapan nanti malam mencari wanita untuk di tiduri lalu di hisap habis darahnya” “ehem.. jaga ucapanmu pada kakakmu..” Mr. Scoth muncul berkata demikian membuat suasana menjadi sangat canggung dan kaku. “ayah, aku hanya bercanda tadi. Bagaimana pagimu.. aku tadi harus mengurus beberapa hal” Mr. Scoth hanya melenggang pergi dan mengabaikan Jennie yang bertanya padanya bermaksud ingin menunjukan perhatiannya itu. Aaron dan Will hanya diam, mereka sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Jennie memang tak pernah dianggap di rumah ini. seberapa keraspun Jennie mencoba untuk mendapatkan perhatian dari ayahnya, tetap ia tak bisa. sampai ia membuat kekacauan di mana-mana barulah sang ayah mau berbicara padanya, itupun bukan sebuah pembicaraan antara ayah dan anak melainkan seorang atasan pada karyawannya. Memarahinya dan memaki dirinya, namun Jennie sudah merasa puas dengan itu. setidaknya ia berhasil mendapat perhatian dari ayah yang tak pernah menganggap keberadaanya. “kita sebaiknya harus naik” Ucap Will sambil merangkul Jennie yang kesal karena telah di abaikan itu. “ehm..” Jennie anehnya cukup luluh pada Will, suaminya itu. meskipun untuk banyak hal ia sangat keras kepala dan selalu saja bersikap sembrono tak bisa di atur. tapi tetap ketika ia sedih dan kesal orang yang paling bisa menengkannya adalah suaminya itu. “Aaron, aku naik ke kamar dulu dengannya” Ucap Will dan setelah itu mereka benar-benar naik ke lantai atas rumah yang seperti istana itu. menyisakan Aaron sendiri di kursi taman tempat tadi dirinya mengobrol dengan Will. Jari-jarinya menuliskan sesuatu di atas meja yang adan di depannya. “qu..qu.. aku harap aku akan bisa selalu bertemu dengannya lagi dan lagi…” …. …. *Di Lantai atas Brakkk Pintu di bating Jennie keras, bibirnya menyumpal bibir Will dengan kasara. Ia tiba-tiba menciumu suaminya dengan sangat liar. Mendorong tubuh suaminya sampai di hempaskannya di ranjang tempat tidur mereka. “kau.. ini masih pukul 11 siang.. kenapa kau sudah seperti ini” Ucap Will begitu melihat tangan Jennie yang dengan seductive membuka dressnya sampai jatuh kelantai menampilkan tubuhnya yang hampir naked itu. “ah.. memang kenapa?” Bisiknya sensual di telinga Will, di hirupnya area bagian belakang pria yang sedang memangku tubuhnya itu kini. “ahhhh…” Jennie menggoda suaminya dengan menghembuskan napas di daun telinganya. Jari-jarinya mulai membelai rahang tegas Will dan turun membuka satu persatu kancing kemeja Will. Bibirnya mulai menyesap kulit leher prianya itu. “katakan padaku.. Aaron.. apa yang sedang di rencanakannya saat ini?” …. ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN