Queeny dan PTSD

1782 Kata
Author Pov Aaron menyelesaikan keanggotaan club olahraga di tempat Queeny bekerja. sesungguhnya itu hal yang tak perlu karena ia tentu tak berniat untuk berolahraga di tempat Gym yang tak aman bagi tubuhnya yang sangat lemah. “ternyata seperti itu dirinya saat menjadi instruktur” Gumam Aaron saat meihat Queeny tengah melakukan coaching pada salah satu wanita yang tengah berolahraga di bawah instruksinya. Ia terlihat begitu telaten memberikan arahan-arahannya. Aaron kemudian mengeluarkan gelang kaki milik Queeny dari sakunya. Ia tahu sudah seharusnya ia mengembalikan gelang kaki itu pada pemiliknya. “harus kukembalikan ini tadi langsung padanya, karena sepertinya gelang ini cukup berharga baginya” Setelah itu, Aaron menemui salah satu karyawan di tempat Gym itu, ia bermaksud ingin menitipkan gelang kaki milik Queeny itu padanya, tak lupa ia pun menuliskan catatan disana. “kenapa tak langsung masukan saja di lokernya?” Usul karyawan gym di bagian administrasi, yang bernama Depheny itu. ialah yang tadi juga telah membantunya mengurus kartu keanggotaan club di gym ini. “bolehkan?” Tanya Aaron dengan antusias saat ia di tawari langsung memasukan gelang milik Queeny itu langsung kedalam lokernya. “ehm.. lokernya di dalam ruangan khusus staff nomor 11, bisa langsung di buka saja karena Ququ juga tak pernah menguncinya” “Ququ…” Aaron menggumamkan nama panggilan menggemaskan itu lagi, sampai ia tersenyum-senyum sendiri ada kesan manis juga lucu saat telinganya mendengar panggilan ‘Ququ’ itu. “ada yang salah?” Tanya wanita muda berambut pirang itu. “ah.. tidak, hanya saja… ehm.. ah, aku harus meletakan gelangnya ini dulu, terimakasih” Ucapnya dan langsung menuju loker milik Queeny dengan langkah yang cepat. Dan kini ia tengah berdiri di depan lokernya itu. ia jadi lebih exited untuk melihat apa saja isi di dalamnya. “ah.. apa ini?” Dan begitu pintu loker itu di bukanya, Aaron menatapi isi loker itu dengan sangat bingung. Di lihatnya banyak sekali obat-obatan, juga beberapa tumpukan tagihan bill di dalamnya. selain ada tas sport yang pasti berisi perlengkapan pribadi miliknya itu. “ini Valium, Xanax, Prozac… wah dia ini..” Aaron mengambil satu persatu dan memperhatikan setiap botol boto obat yang berjajar di loker itu Aaron tahu betul jenis obat apa saja yang ada didalam loker Queeny itu. karena iapun juga pengkonsumsi obat, bahkan selalu bergantung pada obat-obatan. tapi tentu saja dirinya mengkonsumsi semua obat-obatan dengan pengawasan dokter pribadinya. Tapi untuk Queeny ia meragukannya. “shhh.. ini- ini untuk apa ya?” ia menyiritkan dahinya pada satu obat yang tak di ketahuinya. Di perhatikannya komposisi yang tertera di bagian badan botol itu. “ooh..oh sepertinya aku salah telah membiarkanmu memasukan itu sendiri kedalam lokernya” Ucap Dapheny yang tiba-tiba muncul dengan napas yang ngosngosan setelah sebelumnya sempat lupa soal Queeny yang menyimpan banyak obatnya dan malah membiarkan Aaron membukanya sendiri. Saat sadar akan itu, Ia buru-buru menyusuli Aaron dan yang dilihatnya kini tengah membuka loker Queeny dan memperhatikan beberapa botol obatnya. “ini.. semua obat ini miliknya?” Tanya Aaron, tak di jawabnya dan malah dengan cepat ia merebut satu botol obat yang sedang di pegang Aaron. Memasukannya kembali kedalam. “ehmm.. cepat letakan gelangnya di dalam dan pergi dari sini sebelum Ququ tahu” Dapheny sedikit gelisah berkata begitu pada Aaron. Namun Aaron malah diam menatapnya. “ooh ayoo cepat letakan!” Geram dengan Aaron yang malah mematung, ia jadi merebut gelang juga catatan dari yang akan Aaron letakan itu dan langsung di masukanya kedalam. Brakkk Depheny menutup loker Queeny dengan keras. “berpura-puralah tak tahu soal isinya ini, dan cepat pergi oke” Ucapnya pada Aaron. “kenapa?” Tanya Aaron polos. “karena Ququ akan marah, jadi ayo keluar dari sini saja cepat” “oh..baiklah” Setelah itu Aaron keluar dari gedung tempat Gym itu seperti permintaan Depheny. namun ia masih saja terganggu dengan semua obat di dalam loker Queeny, Ia tahu berbagai obat-obatan itu biasa di gunakan untuk orang yang memiliki gangguan cemas, dan gangguan kesehatan mental. Salah satu obat yang tadi di pegangnya tadi Xanax dan valium adalah golongan benzodiazepine yang jelas penggunaannya itu untuk mengurangi gangguan cemas. Deretan obat Prozac, Lexapro, dan Zoloft yang merupakan obat antidepresan yang di kenal sebagai SSRI, kemudian juga obat tekanan darah dengan label Prazosin, selain itu obat anti-epilepsi bernama Tegretol juga ada di lokernya itu yang berfungsi untuk menstabilkan suasana hatinya. Dan satu lagi yang berada di dalam saku Aaron bernama beta- blocker yang diam-diam berhasil diambilnya tadi dari dalam loker sebelum Depheny datang, karena itu obat yang tak di kenalnya dan membuatnya sangat penasaran untuk apa obat itu, jadilah nekat Aaron mengambilnya. “sepertinya aku harus menemui Lisa dan menanyakan obat apa ini?” Aaron kemudian melaju menuju gedung klinik Lisa dengan cepat. Sampai. “Lisa jelaskan padaku obat ini untuk ap-“ Tak di lanjutkannya, ia merasa seperti de javu melihat Lisa yang berpakaian seadanya, kaus kebesaran tanpa bra di dalamnya dan hanya mengenakan celana dalamnya saja. “YOU!!! Kenapa lagi-lagi datang sangat pagi ke rumahku ini??!!!” Lisa yang sedang menyantap sereal sarapannya tadi dan kini ia harus segera berlari menuju lemarinya untuk sedikit membenarkan pakaiannya, karena kedatangan Aaron yang tiba-tiba itu. “tubuhmu cukup indah, jadi biarkan saja tak usah berpakaian lagi” Ucap Aaron nakal. “kau pasien gila!!” Lisa kemudian kembali kehadapan Aaron memakai pakaian yang lebih baik dengan celana hot pant kini, tak lupa menampilkan tatapan kesalnya. “apa? sshhh… tak bisakah kau tak mengganggu acara bersantai pagiku? Aku sudah cukup kelelahan dengan semua penelitian obatmu itu, lagi pula ini holiday Aaron Scoth” “ini sangat urgent, dengar aku menemukan obat ini milik salah satu kenalanku, itu.. katakan padaku itu untuk apa” Langsung Aaron berikan obat milik Queeny Lee itu padanya. Lisa yang sedikit membaca komposisi obat berlabel beta bloker itu, mengangguk-anggukan kepalanya kemudian. “apa? itu obat apa?” “ini sama seperti kortikosteroid, fungsinya untuk membantu mengurangi kemungkinan untuk membentuk ingatan emosional negative setelah mengalami peritiwa yang sangat traumatis, penderita PTSD biasanya mengkonsumi ini bersama obat SSRI seperti Paroxetine” Jelas Lisa. Aaron terdiam, ia sadar seberapa parahnya PTSD yang di derita Queeny sampai sampai ia harus meneguk semua obat-obatan itu setelah kejadian yang menimpanya dua tahun lalu. meskipun diluar Queeny tampak sangat baik-baik saja bahkan dalam pikir Aaron, harus ia akui bahwa Queeny jauh lebih kuat darinya. namun nyatanya jauh di dalam dirinya ia sangat rapuh, terpukul dan menderita karena luka lamanya atas kematian sahabatnya itu. “seberapa buruk PTSD itu? maksudku… berbahayakah?” “ehm.. itu akan sangat menggangu kualitas dan fungsi hidup penderitanya, biasanya akan selalu di hantui kilas balik, sulit tidur, mengalami ledakan amarah, dan perasaan bersalah yang tak sedikit jadi melukai dirinya sendiri, self harm sampai suicide. Biasanya mereka menghindari hal-hal yang mengingatkan peristiwa traumatis itu sendiri. Bahayanya jika sampai terjadi perubahan emosi dan perilaku yang tak terkontrol dari ingatan traumatis yang bisa merusak diri seperti berlebihan mengkonsumi alcohol sebagai pengalih, obat-obatan, dan-“ “cukup” Aaron menghentikan penjelasan Lisa yang membuatnya jadi berpikiran buruk tentang yang mungkin sudah dan akan di lakuakn Queeny untuk mengahadapi traumanya itu. ia jadi menyadari kenapa ia selalu kalah dalam ring, tapi pertanyaan kemudian muncul di kepala Aaron ‘kenapa dia tetap berusaha naik ring dengan traumanya itu..PTSD- nya yang membuatnya selalu kalah dan tubuhnya ringsek dalam pertarungan.. untuk apa dia lakukan itu??’ “ini tentang siapa? PTSD …. dan obat ini milik siapa?” Tanya Lisa, saat melihat Aaron untuk pertama kalinya tampak sangat menghawatirkan kesehatan orang lain dan bukan dirinya sendiri, padahal ia pun sama sakitnya dan mungkin lebih parah lagi nyawanya bisa melayang jika ia sampai kekurangan darah. “pendonorku yang kemarin” “pendonor? Yang kemarin?...” Lisa berusaha mengingatnya dan mulai mengerutkan dahinya. “ah.. si petarung itu? kau menemuinya? Ini- ini obat miliknya?” Tanya Lisa kaget. Aaron menghembuskan napasnya panjang. Padahal semula ia senang sekali akan bisa menemukan seorang pendonor yang mungkin bisa ia dekati dan di jadikannya pendonor tetapnya. Tapi setelah mengetahui keadaannya yang ternyata sudah mengalami hidup yang cukup pahit, ia jadi sangat ragu dan tak bisa bertindak egois dengan tiba-tiba datang mengganggu hidupnya ataupun mendesak Queeny untuk menjadi penonornya. “kembalikan ini padanya, mungkin ia akan membutuhkan ini” “ya, harus kukembalikan” Aaron menunduk. “hey.. lupakan dia, aku akan berusaha mendapatkan pendonor baru untuk transfusemu minggu depan, penelitian obatmu juga mulai berjalan dan sejauh ini tak ada kenadala yang berati, jadi bersemangatlah..” Ucapnya. Tapi sepertinya Aaron terlanjur sudah tak bisa melupakan wanita yang pernah menjadi pendonornya itu. .. Sementara itu Queeny yang baru saja selesai sesi couchingnya membuka lokernya tengah mengambil handuknya disana. “oh? Ini.. kenapa ada di sini..bukankah tadi masih ada padanya” Gumam Queeny. Dan ditemukannya catatan disana. Jadilah instruktur yang baik untukku dan akan kupastikan aku ini akan jadi lebih kuat sampai bisa membalas bantingamu waktu itu Aaron “Aaron?” “bantingan? Ah… dia itu si vampire waktu itu, kenapa aku tak mengingatnya ya?? Pantas saja kemarin malam wajahnya sangat tak asing” Akhirnya Queeny mengingat pertemuan pertamanya dengan Aaron saat malam itu di Devil Ring. Setelah itu di memakai kembali gelang kaki itu dan berjalan keluar ruangan staff. “Depheny ini-“ Tanya Queeny pada karyawan wanitanya itu sambil menunjukan catatan yang Aaron tadi tinggalkan bersama gelang kakinya. “ah.. pria yang mendaftar tadi menitipkan itu padaku jadi ku taruh itu di lokermu” Ucapnya berbohong, memang Depheny cukup tahu kalau Queeny sedikit tak suka jika ada orang asing yang menyentuh atau melewati batas privasinya. Tapi tadi dengan bodohnya depheny malah membiarkan Aaron membuka sendiri lokernya. “ah begitu” “siapa dia?” Tanya Depheny penasaran. Karena selama ini setahunya tak ada pria yang berani mendekatinya selain Jack Lee yang belakangan juga malah di jauhinya. “sepertinya dia orang suruhan Jack untuk mengikutiku” Terka Queeny. “benarkah? Dia itu terlalu tampan hanya untuk jadi sekedar antek anteknya kak Jack” Balas Depheny, “tampan katamu? Wajahnya yang seperti vampire kau sebut tampan..heol..yang benar saja, matamu itu rabun atau apa hahaha” “enak saja, kau yang rabun semua orang juga tahu dia itu tampan.. siapa namanya.. sebentar, ah.. Aaron Scoth, kedengarannya tak asing, dimana ya aku pernah mendengarnya..” Depheny jelas-jelas pernah mendengar namanya di suatu tempat, dan kini berusaha mengingatnya. “aku tahu dimana..di- mim-pi-mu..” “aah.. kau menyebalkan Qu!! Sungguh aku pernah mendengar namanya…” Tepat saat Depheny berusaha mengingat nama Aaron, siaran pagi sedang memulai acara beritanya. “….wali kota Jhonas bersama wakilnya, baru saja melaksanakan pesta penyambutan kerja sama kemitraan dengan perusahaan GLOBAL Holding Company CEO Aaron Scoth yang baru saja pulang dari kanada turut menghadiri-“ Suara dari monitor yang membawakan berita pagi ini membuat Queeny dan Depheny memaku dan saling meleparkan pandangan keduanya. Hening. “hahh.. nama CEO itu sama seperti si vampire…” Ucap Queeny menyangkal pria yang di sembutnya si vampire itu adalah seorang CEO. “ahhh…Qu…. aku pikir dia itu memang…..seorang CEO, lihat itu, wajahnya benar-benar ada di layar” Ucap Depheny sambil menunjukan layar monitor itu ke hadapan Queeny. “eyy… jangan bercan-“ Mata Queeny hampir saja loncat saat melihat pria yang mengganggunya selama ini ternyata seorang CEO. “di-a..dia .. sungguh CEO? Tapi kenapa??? kenapa dia mau maunya mengikutiku atas perintah Jack??” … …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN