…
Dari pencahayaan yang sangat minim sekali, tapi bisa kulihat jelas dengan kedua mataku bahwa orang yang tengah berhadapan dekat denganku saat ini adalah Queeny Lee. Kuperhatikan lekat-lekat wajahnya mulai dari matanya yang berbinar, garis wajahnya yang sangat cantic, bibir kecil yang merah menggoda semerah ceri warnanya. hingga dapat kucium juga aroma manis vanilla dari hembusan napasnya berkat ice cream yang tadi di makannya itu.
“aku sedang bertanya padamu, siapa yang menyuruhmu mengikutiku?”
Aku tak mengerti dengan maksud pertanyaannya itu, maksudku kenapa harus ada orang yang menyuruhku jika mengikutinya adalah keinginanku sendiri. Atau mungkin selama ini ada orang-orang yang mengikutinya sampai ia bertanya seperti ini padaku.
“aku- aku…”
“jika Jack yang menyuruhmu katakan padanya tak usah pedulikan aku lagi”
“Jack?”
Tanyaku, kenapa Queeny sampai menebak kalau Jack Lee menyuruh orang mengikutinya.
Tap
Telapak tangannya di pukulkannya tepat di dadaku membuatku semakin terdorong kebelakang dan punggungku jadi menghantam dinding di belakangku.
“hh…”
“katakan padanya untuk berhenti beralasan khawatir atau apapun itu.. aku sudah tak akan percaya lagi dengan semua perkataannya”
Ucapnya dengan nada yang sangat dingin dan penuh peringatan padaku, aku tak bisa menjawab apapun tak mengerti apa maksud upanyanya dan jadi diam saja memperhatikan raut wajahnya itu.
Ia kemudian mundur menjauh dariku. Berjalan dengan malas dengan kedua tangannya yang di masukannya kedalam saku celana Jeansnya berjalan keluar dari lorong yang cukup gelap tempatnya tadi menyudutkanku.
“huuuuhh..”
Aku bisa bernapas dengan lega akhirnya setelah sebelumnya aku tahan.
“apa?”
Tanyaku padanya reflex sedikit terkejut padanya saat kulihat ia tiba-tiba kembali mendekat padaku, berjalan ‘like a savage girl’. Padahal baru saja satu langkah kakiku ku majukan kini harus mundur lagi karena ia yang sepertinya akan kembali menahanku.
“sshhh… sepertinya wajahmu sangat tak asing”
Ucapnya, sambil memperhatikan wajahku. Aku jadi terlihat seperti pria pengecut yang dirundung oleh wanita yang tubuhnya saja jauh lebih kecil dariku.
“ah… sudahlah..”
Ucapnya berbalik kembali dan berjalan melanjutkan langkahnya.
“apa lagi?”
Tanyaku kaget untuk kedua kalinya saat lagi lagi Queeny menghentikan langkahnya dan menoleh kearahku. Ahh sungguh dia itu kenapa menakut-nakutiku seperti itu.
“jangan mengikutiku”
Ucapnya sambil mengankat jari telunjukannya dan di arahkannya padaku.
“tak akan”
Jawabku sambil tersenyum dengan sangat kikuk, Setelah itu ia berjalan dengan sangat cepat menjauh dariku.
“wahh.. dia itu, sifatnya benar-benar tak tertebak. Hhh..you’re in trouble Aaron! she’s a badass girl!!”
Gumamku sambil mengelus-eslus dadaku yang tadi di tap-nya lumayan keras. Namun kemudian mataku menemukan sesuatu di bawah sana tepat di samping sepatuku. Itu seperti gantungan pikirku, penasaran akhirnya ku ambil dan kuperhatikan yang ternyata adalah sebuah gelang kaki dengan gantungan mahkota dan bintang berwarna putih mengkilap.
“ini.. pasti jatuh saat ia menarikku tadi”
Ku genggam erat gelang kaki itu, sungguh aku beruntung sekali menemukannya aku jadi alasan yang kuat untuk menemuinya kembali.
“hallo.. Will kirimkan padaku lokais kick Gym tempat Queeny Lee bekerja”
Ucapku pada Will dalam telpon yang sangat singkat itu. senyumku kini benar-benar mengembang, tak sia-sia rasanya tadi punggungku harus membentur tembok karena di pojokannya. Pokoknya besok aku harus datang menemuinya.
..
Mataku kubuka pagi ini tanpa bunyi alarm seperti pagi-pagi sebelumnya, aku dengan bersemangat bangun dan segera bersiap.
Berdiri di depan deretan pakaianku,
“hhhh…melihat semua ini hanya membuatku terus mengingat bebanku sebagai CEO saja”
Keluhku, closet roomku memang hanya di penuhi oleh pakaian formal saja, tak jauh dari kemeja, jas, dasi yang membuatku jadi teringat kembali pada pertemuan seperti rapat-rapat yang selalu berhasil membuat kepalaku pusing.
aku berjalan menuju lemariku di sudut kanan ruang khsusus pakaianku ini. kemudian mencari-cari baju olahragaku. aku memilih-milih mana pakian yang akan ku pakai untuk pergi ke tempat gym hari ini.
“hh… kira-kira mana yang cocok ya untuk kupakai menemui Queeny? Nike? Adisas?”
Sejujurnya aku tak ingat kapan terakhir kali aku pergi ke tempat gym. karena tubuhku yang terkena thalassemia, membuatku selalu mengalami gejala anema sampai sampai sering kali aku cepat kehilangan tenagaku. Jadi jangan bayangkan aku yang sedang mengangkat beban ataupun berlari di treadmill, aku tak memiliki tenaga untuk itu. kalau pun aku memiliki tenaga aku harus menghematnya untuk mengahdapi si culas Jennie yang ingin mengahncurkan perusahaan.
Meskipun anjuran berolahraga tetap berlaku untuk penderita talasemia sepertiku, namun memang tim dokter menyarankan untuk memilih olahraga yang lebih ringan dan slow saja. dan pilihanku selalu berakhir pada renang dan yoga. Tentu untuk yoga aku selalu di bantu instruktur pribadiku yang datang menemuiku secara privat. Atau alternative pilihan olahragaku lainnya adalah golf, meski untuk yang satu ini aku tak yakin bisa di sebut sebagai aktivitas berolahraga, karena pada akhirnya aku yang malah jadi harus melobi beberapa orang penting untuk perusahaan.
“tubuhku tak terlalu memalukan untuk bertemu dengan seorang atlet seperti Queeny, aku masih punya semua otot-otot ini”
Gumamku, sambil berkaca memperhatikan tubuhku di cermin. Ya, meskipun semua otot-otot itu kudapatkan dengan cara yang sangat instant berkat bantuan Lisa dan tim dokter penelitiannya.
Otot-otot yang membuatku tampak gagah saat ini, adalah berkat Muscle enchancer atau di sebut juga anabolic steroid yang sangat ampuh untuk meningkatkan masa otoku. Senyawa anabolic steroid itu adalah zat yang membuat hormone pembentuk otot pada tubuh pria bekerja lebih efetif meskipun tanpa olahraga yang bisa di katakan over contohnya seperti para atlit yang memiliki masa otot yang sangat luar biasa.
Penggunakan anabolic steroid ini tentu memiliki resiko yang sangat luar bisa, cukup menganggu fungsi kerja tubuhku apalagi sudah di tambah dengan penyakitku ini. namun dengan bantuan Lisa dengan obat-obat yang di berikannya padaku, aku bisa bergantung pada si anabolic steroid obat pembentuk otot itu, hingga memiliki tubuh berotot yang ehm.. cukup sexy.
Aku terlalu lemah untuk melakukan olahraga angkat beban, lari, taekwondo, boxing dan lainnya, yang seperti biasa di lakukan kebanyakan pria bugar dan berotot diluar sana. tulangku yang lebih ringkih dari kebanyakan orang hanya akan menimbulkan resiko saja, bila harus melakukan olahraga yang cukup atraktif.
Karena aku tak berolahraga jadi aku harus memperhatikan dietku. makanan berprotein tinggi, namun harus miskin zat besi selalu menjadi menu makanku. kandungan wajib yang harus selalu ada dalam porsi makanku seperti EAA atau istilah untuk Sembilan asam amino essential, HMB, Creatine yang menurut ahli giziku selain bisa membentuk otot juga bisa membuatku lebih berenergi. Namun sayangnya aku sedikit meragukan teorinya soal meningkatkan energy itu, karena hanya dengan darah saja aku bisa merasa sangat jauh lebih berenergi.
“hh.. aku harus berhasil mendekati Queeny hari ini”
Sesungguhnya keinginanku untuk yang satu ini, bukan karena aku yang sangat terobsesi padanya atau karena hatiku yang terpikat atau menggila karena jatuh cinta pada pandangan pertama. Meski harus ku akui aku merasa sangat tertarik padanya, terkadang memikirkannya, penasaran, tapi untuk memiliki perasaan yang lebih dalam dan lebih jelas lagi aku harus meyakinkan hatiku lebih jauh.
Aku gencar mendekatinya kini hanya karena aku memiliki waktu seminggu lagi saja dari jadwal transfusiku, dan ayahku tentu tak bisa menunggu lebih lama lagi, atau aku akan mendapat amukannya kembali, karena masih belum mendapat manusia yang akan menjadi pendonor tetapku.
“sisa 9 hari lagi saja.. aku harus merebut hati Quenny”
Meskipun aku tak yakin, dan sedikit ragu. Dia terlalu tangguh untuk ku dekati. Aku bahkan merasa aneh padanya. biasanya semua wanita yang bertemu denganku hanya memunculkan dua reaksi, pertama mereka akan sangat terpesona dengan ketampananku atau yang kedua mereka ketakutan karena tampangku yang seperti vampire saat aku sudah sangat membutuhkan transfuse darah.
Selesai berpakaian aku turun dan keluar rumahku.
“aku akan menyetir sendiri hari ini”
Kataku pada supirku. Langsung kunaiki mobilku dan menuju temat gym tempat Queenya bekerja.
Will mengirimkan kembali alamatnya padaku, padahal sebelumnya sudah ia kirimkan bersama data Queeny yang lainnya, yang karena malas jadi aku belum sempat untuk memeriksanya sebelumnya. Tapi semalam aku jadi membaca data-data tentang perjalanan hidupnya. meski masih banyak dan belum selesai k*****a, tapi setidaknya aku sudah memiliki sedikit gambaran soal bagaimana hidupnya selama ini.
Ku parkirkan mobilku di area sekitar gedung gym itu berada.
“Oh? Kenapa dia? yang benar saja dia itu”
Kagetku saat kulihat dari jendela kaca gym itu, Queeny sedang memindahkan beban yang kulihat angkanya di sana 30 kg.
“astaga! Dia itu gila atau apa? Bahunya mengalami cedera tapi dia..ahh”
Aku kemudian turun dari mobilku dan langsung masuk kedalam sana. biasanya butuh waktu sampai 3 minggu lamanya untuk proses pemulihan cedera atau dislokasi bahu. Dan bukankah seharusnya ia beristirahat atau menemui bagian ortopedi untuk menjalani menjalani program fisioterapi. Tapi dia malah bekerja di Gym dengan alat-alat berat seperti ini.
“berikan padaku”
Kataku langsung merebut beban yang ternyata sangat berat kuangkat kini. ku ambil alih pekerjaannya memindahkan beban-beban itu menggantikan dirinya. ia kemudian menatapku dengan sorot mata yang mungkin aneh karena kemunculanku yang terlalu terlalu tiba-tiba pagi ini.
“kau.. sudah kukatakan padamu jangan mengikuti-“
“bahumu.. bagaimana kau bisa mengangkat beban seperti ini dengan bahumu yang menglami dislokasi itu”
Kataku, kali ini aku yang lebih berani darinya, nada bicaraku bakan lebih tinggi darinya, entah kenapa aku seperti ini dan aku juga tak tahu kenapa ia tampak seperti kaget mendengarku berucap begitu.
“waah.. jadi baru saja aku di marahi pria asing.. beraninya kau-“
“apa?”
Kataku tak ingin kalah atau di sudutkan lagi olehnya, ku majukan langkahku mendekatinya. Ku tatapi matanya, pupil matanya jadi membesar ku perhatikan. Satu langkah, dua langkah, dan kini aku sudah berhadapan dengannya, sangat dekat dan hanya menyisakan jarak beberapa mili saja. tangannya yang semula menopang pinggang kini di turunkannya. Tubuhnya jadi condong kebelakang. Ia kemudian menurunkan pandangannya kini menatapi bibirku.
“kau.. ini bukan vampire bukan? kau tak memiliki taring untuk menghisapku bukan?”
Tanyanya pelan dan terdengar sangat ragu. Kupikir matanya itu memperhatikan bibirku dan di buat terpesona kareanya. tapi ternyata ia penasaran dengan apa yang ada di dalamnya bahkan matanya kini tengah mengintip gigi taring yang ada di balik bibirku itu.
“iiiii…”
Akhirnya kupenuhi rasa penasarannya, kutampakan deretan gigi rapiku itu padanya. dan jari telunjukannya di ketukannya di gigi taring atas bagian sisi kananku.
Tak tak tak
‘hftttt…haruskah dia berbuat seperti itu pada gigiku???’
Jika bukan karena dirinya ini berparas sangat cantic dan merupakan pendonorku sudah pasti ku patahkan jarinya yang lancang mengetuk-ngetuk gigiku ini.
“ahh..tak runcing dan sepertinya normal”
“puas? Aku ini manusia dan bukan vampire jadi tak usah takut bagitu padaku”
Kataku. Ia mengedip-ngedipkan matanya tertangkap basah olehku, karena dengan jelas kulihat tampak dari wajahnya kalau dia itu sempat merasa takut padaku tadi.
“menjauhlah dariku”
Ucapnya sambil mendorong tubuhku mundur menjauh darinya. ia masih memperhatikan diriku seperti sedang melihat mahluk aneh.
“kau..kenapa sudah keluar dari rumah sakit? seharusnya kau jalani rehabilitasi dulu untuk bahumu atau setid-“
“berhenti menggangguku, kau lebih baik perhatikan dirimu yang sepertinya kekuarangan gizi atau darah itu, aah.. kau pucat sekali sampai ku kira kau ini hantu yang berkeliaran di siang hari”
Ucapnya padaku, tapi kenapa semalam bahkan ia memperhatikan wajahku dan reaksinya tak seperti pagi ini padaku, maksudku dia bahkan menyudutkanku dan memberiku peringatan.
Dan tentunya aku sudah pasti tak akan menakutinya dengan terlihat seperti hantu seperti pagi ini, jika ia bersedia dengan rutin memberikan darahnya untukku bukan.
Ia dengan santainya pergi kemudian meninggalkanku menuju ruangan ganti yang di penuhi dengan banyak sekali loker. Ku ikuti dirinya dan ternyata itu adalah ruangan pria.
“hh..Oh My- kenapa dia masuk kesini??”
Gumamku, sambil masih mencari sosoknya. Dan itu dia, kutemukan dirinya di sudut ruangan dan tengah mulai mengepel ruangan. Tunggu yang benar saja bukankah dia itu pelatih atau instruktur? bahkan kutahu dia itu adalah pengelola disini, tapi kenapa dia juga harus membersihkan tempat gym ini.
“kau bisa memanggil petugas kebersihan Gym ini dan tak perlu mengerjakan pekerjaan seperti ini sendiri”
Kataku ia hanya mengabaikanku. Sampai ku ambil alat pel itu.
“pergilah, kenapa kau menggangguku seperti ini?... cih menyebalkan sekali kenapa Jack mengirim orang gila padaku. dia benar-benar paling hebat membuatku jengkel dan frustasi”
Gumamnya, ia masih mengira Jack Lee yang mengirimku dan karena perintahnyalah aku disini saat ini.
“pergilah”
Ucapnya mengusirku kembali.
Queeny yang baru saja bemaksud akan berbalik untuk membalikan tubuhnya dari hadapanku, namun dengan cekatan ku hentikan dirinya dengan tanganku agar ia tetap mengahadapku.
“diam jangan dulu berbalik, mereka sedang berganti dan bertelanjang saat ini”
Kataku, dan ia menurut saja. diam. mematung kini ia berdiri di hadapanku dengan masih kupegangi dirinya.
“sudah?”
Tanyanya, hendak akan mengintip dengan menolehkan kepalanya kesamping,
“belum”
Kataku sambil kuraih wajahnya dengan tangaku dan menghentikannya yang hampir saja menoleh pria yang sedang berganti pakaian di ruangan ini.
Ia mendongak menatapku.
“sudah?”
Tanyanya sekali lagi. dan kulihat pria yang sedang berganti disana sudah selesai berpakaian dan akan meninggalkan ruangan.
“belum, dia baru membuka celana dalamnya”
Bohongku padanya. pipinya tiba-tiba merona mendengar jawabanku itu. aku baru tahu setangguh apapun dirinya sebagai seorang petarung, ia juga tetap seorang wanita yang bisa tersipu saat menghadapi situasi seperti ini. aku jadi harus menahan tawaku, melihat wajahnya yang tampak sangat lucu itu.
“sudah?”
“belum”
Untuk beberapa saat aku merasa waktu terhenti dan semua terasa sangat sepi. Caranya menatapku sungguh membuat hatiku berdetak tak menentu, aku bahkan menahan napasku saat ini. dan entah dorongan dari mana wajahku semakin kudekatkan dengan wajahnya. matanya jadi semakin terbuka lebar, ia cukup tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya.
“hh..hentikan”
Ucapnya sambil melepaskan tanganku yang menahan lengan atasnya sebelumnya, dan berbalik memunggungiku kemudian.
“tunggu.. apa ini? tak ada siapa-siapa di sini? Kau! kau membohongiku??!!!!”
Ucapnya.
“ehm.. mungkin dia sudah pergi”
Kataku.
“awas kau beraninya-“
Ia hampir saja akan melayangkan tinjunya padaku, namun di hentikannya tepat saat ku keluarkan dan kutunjukan gelang kaki miliknya yang ia jatuhkan semalam tepat di depan wajahnya.
Tring…
“ini.. ini kenapa ada padamu kembalikan!”
Ia berusaha merebut gelang miliknya itu dariku, dan dengan sigap ku naikan tanganku hingga ia tak bisa menjakau itu.
“akan ku kembalikan padamu dengan syarat….”
“syarat?”
“ehmm… kau harus…”
“apa cepat katakan!”
Ucapnya dengan masih berusaha menggapai gelang kakinya yang kupagangi tinggi-tinggi.
“ssh… diam dulu”
Kataku sambil mundur satu langkah darinya. menghentikan aksinya yang berusaha merebut gelangnya yang ada padaku.
“oke. Cepat katakan”
Akhirnya dia sepertinya akan menyetujui syarat yang kuberikan padanya.
“jadilah instruktur kebugaran pribadi di rumahku”
“cih, kau pikir kau siapa? Tidak!”
Tolaknya. Tegas.
“ya sudah kalau begitu tak akan ku kembalikan gelang ini padamu”
“hhh…”
Dia sedikit berpikir kemudian.
“kembalikan padaku, atau kau ingin aku mematahkan tanganmu itu dulu? Hah? Begitu? Kau tak tahu siapa aku dan bisa seberapa kejamnya aku ini padamu, bukan?”
Tanyanya, mengancamku.
“ehm.. jika kau mematahkan tanganku, tempat gym yang dengan susah payah kau bangun bersama temanmu itu akan terkena dampaknya dan mungkin akan langsung di tutup oleh kepolisian setempat karena pengelolanya mematahkan tangan-“
Tak kuselesaikan, saat kulihat matanya mulai berkaca dan kepalanya sedikit di tundukannya kini.
Sepertinya aku telah salah berucap. Wajahnya jadi sangat serius sekali. Itu pasti karena tadi ku singgung tentang temannya.
Semalam aku membaca data tentang dirinya yang menjadi penyebab kematian temannya yang juga merupakan sahabat terbaiknya, temannya sekaligus patner tebaiknya selama menjadi atlet petarung. Mereka bahkan membangun tempat gym ini di usia mereka yang masih sangat belia di bantu oleh Jack Lee. Namun sayang ring tempatnya bertarung itu tak hanya memberikan sebuah kebahagiaan karena kemenangan tapi juga kesedihan, kehilangan, kematian orang terkasihnya yang menyisakan trauma hebat pada dirinya.
Pertarungan dua tahun lalu harus merenggut nyawa sahabat tercintanya yang bernama Aletha Collins yang masih berusia 21 tahun saat itu. pembengkakan juga pendarahan di otaknya menjadi penyebab kematian Aletha yang di kenal sebagai The Devil Queen itu. kulihat data prestasi petarung cantic itu sampai mencatat rekor 7-5 di usianya yang masih sangat muda. saat itu Aletha yang di promotori oleh LFA dan Queeny yang di promote oleh Bellator, keduanya sahabat itu harus dipertemukan sebagai lawan di atas ring Fast and Furious Fight Series (FFS) di Central Hall, Inggris 2 tahun lalu. Aletha mengalami cedera otak saat bertanding dengan Queeny dan dalam pemberitaan saat itu Aletha di nyatakan meninggal dunia saat akan di larikan ke Rumah Sakit Southampon waktu setempat.
Aku tak tahu detailnya seperti apa. karena jejak digital pemberitaan tentang kematian petarung MMA itu, juga serba-serbi tentang kejadian itu sudah di hapuskan dari situs online, data yang kuterima dari Will juga hanya sampai di situ saja. bahkan saat ku cari lebih lanjut soal pemakaman dan lain-lainya tak bisa kutemukan, begitu juga soal Queeny yang mundur dari dunia pertarungan, ternyata tanpa di ketahui pemerhati olahraga, secara diam-diam malah naik ke ring gila seperti Devil Ring yang sangat brutal itu.
Tapi dilihat dari bagaimana caranya bereaksi saat aku sedikit menyinggung tentang sahabatnya itu, aku bisa langsung tahu kalau itu bukan hal yang mudah baginya.
Queeny sudah berjalan meninggalkanku, sedikit menyesal telah menghancurkan moodnya pagi ini.
“setidaknya jika kau inginkan aku menjadi intstruktur pribadimu, berolahragalah di tempat ini”
Ucapnya tahu aku tengah mengikutinya di belakanganya.
“dan jangan lupa untuk mendaftar dulu sebagai anggota club fitness ini, kau bisa mengurusnya di bagian administrasi, kau bisa berkonsultasi soal jadwal dan durasi akan berapa lama kau mengikuti fitness di sini”
“berapa lama? Jika durasinya untuk selamanya bagaimana?”
Tanyaku membuatnya menampakan wajah datarnya kini.
“kau ini gila atau apa??? cepat selesaikan dan pergi dari sini!”
Dia membantakku dengan suara kecilnya yang terdengar seperti anak kecil yang manis. Hasilnya bukannya pergi aku malah tertawa, ku pikir petarung itu suaranya akan terdengar sangar dan garang ternyata tidak, sedikit cempreng bahkan kudengar.
“ya..ya.. baiklah”
Balasku dan langsung menuju bagian administrasi.
…
..