"Aku merindukan mu, Alexa." desah suara itu terbawa oleh desisan angin, mengubahnya menjadi bebunyian yang meremangkan bulu kuduk. Tubuh Alexa seketika menegang, terkejut kaku tanpa antisipasi. Ia tak menduga akan mendapatkan hal semacam ini di sini. Serbuan firasat ganjil langsung memenuhinya di tengah malam yang dingin ini, berpadu dengan suara desiran air sungai yang mengalir kencang di sisi kanannya. Sementara bayangan tebing tinggi berwarna abu gelap nyaris hitam bagai dinding penjara untuknya, mengurungnya di antara pilihan yang buntu tanpa senjata apapun untuk melindungi diri. Setelah hukuman yang Alexa berikan pada lelaki yang tengah berdiri tak jauh di depannya ini, ia tak menyangka akan bertemu lagi dengannya di sini, di tempat seperti ini dengan hanya berdua saja. Apalagi set

