Nana terjingkat kaget saat mendengar pertanyaan dari Dean. Ia berpikir jika pria itu memiliki mata batin atau bisa membaca pikiran orang lain. Jika memang benar, itu sangat merepotkan. "Ti-tidak pak. Saya hanya melamun sebentar," kilah Nana dengan gugup sambil membuang pandangan ke arah lain. "Saya tidak suka orang yang lalai dalam pekerjaan. Apalagi melamun seperti itu. Jangan membuat kekacauan di kantor." Dengan tegas Dean berbicara penuh intimidasi, hingga membuat Nana tak bisa mengeluarkan satu patah kata pun dari mulutnya. Pria itu memang sudah tidak diragukan lagi, jika membuat lawan bicara langsung mati kutu. Sekali buka mulut, langsung mengeluarkan racun. "Baik, saya mengerti." 'Papa, aku ingin pulang saja, daripada harus bekerja bersama pria ganas seperti ini,' batin Nana menj

