Tubuh Mentari mendadak kaku, kakinya terasa lemas. Ia masih belum bisa mencerna apapun meski di depan matanya dia melihat anaknya terkapar berlumur darah. Ketika banyak orang yang datang mengerubungi Gio yang tergeletak barulah Mantari sadar, jika dia tidak bermimpi. Dengan langkah terseok-seok ia berjalan di antara kerumunan hingga ia melihat Gio di sana. Seketika tubuhnya terjatuh di samping Gio, "Sayang bangun." Ia angkat kepala Gio lalu membawanya ke dalam pangkuannya, dirinya tidak peduli dengan darah Gio yang mengenai tangan dan bajunya. "Gio dengar mama!" teriak Mentari disertai dengan deraian air mata yang menyakitkan. "Gio buka matamu nak!" Beberapa orang melihatnya iba, mereka menempatkan dirinya menjadi seorang Mentari yang harus melihat kejadian naas yang menimpa anaknya.

