Kahfi tiba di rumah dengan perasaan tegang. Di sana, sudah duduk menunggu Mama, Sarah, dan kedua orang tua Sarah di ruang tamu yang besar dan mewah. Suasananya terasa begitu dingin, seolah-olah angin dari daerah bersalju berhembus ke setiap sudut ruangan. Kahfi tahu ini akan menjadi momen yang menentukan keputusannya untuk membatalkan pernikahan dengan Sarah pasti akan memicu kemarahan. Saat dia masuk, semua mata tertuju padanya. Kahfi menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin cepat. Dia menyiapkan diri untuk menghadapi gelombang pertanyaan dan penilaian. "Kahfi, kami mendengar kabar mengejutkan ini dari Sarah. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tiba-tiba membatalkan pernikahan ini?" Suara Bapak Sarah terdengar tegas, tetapi tak sepenuhnya marah. Se

