"Sampai mati pun aku tak akan pernah memaafkanmu. Membu-suklah kau di penjara, kemudian di hari akhir aku akan menuntutmu sebagai laki-laki bia-dap yang tak layak disebut suami atau dipanggil Ayah." "Halimah ...." "Pergi, kau tak pernah hadir di hidup anakku saat dia masih hidup, jadi dia juga tak butuh kehadiranmu sekarang. Pergi, aku jijik melihatmu. Kamu dan keluargamu akan mender-ita seumur hidup sampai kalian mat-i." Sumpah serapah Halimah laksana hujan peluru yang menyasar setiap jengkal badanku, menciptakan rasa nyeri, ngilu, banyak rasa yang tak bisa kujelaskan. Aku berani bersumpah tak pernah sedikit pun terlintas di benak untuk menyakiti Gio. Aku akui lalai padanya, tak pernah menjalin kedekatan layaknya Ayah dan anak. Jika ingin jujur aku belum siap menjadi seorang Ayah. Aku

