"Apa yang kau pikirkan?" Suara Kahfi mengalihkan pandanganku dari Gio. Sudah dua hari, tetapi belum ada tanda-tanda dia akan bangun. Hati Ibu mana yang tidak sakit melihat d4rah dagingnya terbaring tidak berdaya di atas brankar rumah sakit. "Fi, apa kata dokter, kenapa Gio belum juga siuman?" Aku menatap Kahfi lekat, berharap ada kabar baik yang dia bawa dari dokter yang menangani Gio "Maaf, aku harap kamu tetap kuat, ya. Kita akan hadapi ini sama-sama." Aku merem4s dadaku mendengar kata-kata Kahfi, seakan hendak menenangkan detak jantung yang semakin menggila. "Ada apa sebenarnya? Tolong jujur sama aku." Aku memegang tangan Kahfi erat, tak peduli kami mahrom atau tidak. Di saat seperti ini aku butuh seseorang yang bisa menguatkan, peran yang seharusnya dilakukan oleh Dayat. Namun, e

