"Gio!" Aku terhuyung ke tempat tidvr ketika mencoba bangkit "Halimah, kamu gak papa?" Aku menoleh ketika mendengar suara Kahfi menanyakan keadaanku. Sesaat aku linglung menatapnya, benakku mencoba mengumpulkan keping ingatan terakhir sebelum semuanya terasa gelap. Rasa ngilu menik4m d**a ketika penjelasan polisi terngiang kembali di dalam di dalam tempurung kepalaku. "Fi, aku, aku ...." "Kamu tenang, jangan banyak gerak." Kahfi memperbaiki plester untuk menahan jarum infus di tanganku. Aku membiarkan kepalaku jatuh di d**a Kahfi. Aku tak pernah mengira dalang peramp0kan suamiku sendiri. Ke mana hatinya dia letakkan? Tak bergetarkah nuraninya saat melihat tubuh kecil Gio terpental ke dinding? "Sakit, Fi, sakit!" Aku merem-as baju snelli Kahfi erat-erat sekadar meluapkan amarah yang

