"Kamu yakin gak perlu ditemani?" Suara Mas Faris terdengar bernada cemas di telepon, hangat merayap ke dalam d**a karena masih ada yang peduli padaku. "Iya, Mas, aku baik-baik saja, cuma patah paling ikut fisioterapi normal lagi." "Cuma patah?!" Kali ini suara Mas Andar terdengar meninggi, aku sampai harus menjauhkan ponsel dari daun telinga. "Udah kayak gitu masih bilang cuma? Kamu jangan anggap enteng semuanya Imah!" "Iya, maaf." Aku memilih mengaku salah daripada dicemarahi lagi sama Mas andar. Berbeda dengan Mas Faris yang lebih kalem, Mas Andar cenderung urakan, tetapi dia maju paling depan kalau ada sesuatu menimpa saudaranya. "Mas, udah minta tolong sama Bayu carikan kamu asisten rumah tangga untuk bantu-bantu di sana." "Tapi Mas ...." Aku merengek mendengar perkataan Mas Fari

