Tatapan Kahfi membuatku seolah ditarik ke masa lalu saat itu sore menjelang kala lembayung senja mengukir rona kemerahan di ufuk barat. Aku membiarkan pertanyaannya mengambang di udara sampai sekarang. Melihatnya sudah memiliki calon istri membuat rasa bersalahku berkurang. Tentu saja, apa yang aku harapkan? Berharap Kahfi merasa kehilangan dan terus menungguku? Dalam hati aku menertawakan diri sendiri, jangan terlalu percaya diri Halimah, kamu tak seistimewa itu hingga bisa membuatnya patah hati. Kahfi lelaki tampan dan mapan, apalagi berprofesi sebagai dokter ahli bedah pasti banyak yang mau menjadi pendamping hidupnya. "Aku Kahfi dan Anda?" Kahfi mengulurkan tangan ke Mas Bayu, padahal jelas-jelas Sarah menunjukku, apa dia tak ingat padaku? Rasanya tak mungkin waktu dua tahun membuat

