"Dayat, gimana?" Ibu menyikut lenganku. Ingin rasanya berteriak, ini bukan masalahku kenapa harus aku yang pusing? "Ck, ditanya Ibu malah bengong!" Ini lagi Mbak Anis memelotot ke arahku seolah-olah aku yang membuat onar. "Imah gak mau kasih u-angnya." "Apa?!" Mata Ibu nyaris melompat dari tempatnya. "Masa kamu gak punya u-ang? Jangan pelit sama Mbakmu!" Arg! Kenapa Ibu dan Mbak Anis tahunya hanya menuntut, kalau bukan karena ulahnya tak mungkin hal memalukan seperti ini terjadi. Selingkuh ya selingkuh, tapi jangan sampai ketahuan juga. Aku mengusap wajah dengan kasar, sementara polisi dan istri selingkuhan Mbak Anis menunggu jawabanku. "Mbak, apa gak bisa kita nego lagi?" Wanita itu menggeleng. "Saya sudah legowo gak masukan wanita gak tahu diri itu ke penjar4, kamu pikir u-ang 25

