"Gu--gue pa--pamit, Han. Ma--makasih, buat wa--waktu lo, selama ini," ucap Ares, lalu tak lama kemudian kedua matanya terpejam. Jihan menggelengkan kepalanya. "ARES!! ARES, BANGUN ARES!! ARES!!!" Jihan menggoyangkan pipi Ares dengan kasar. Air matanya sudah turun membasahi pipi. Jihan menangis histeris. Ia terus berusaha membangunkan Ares. "ARES, LO HARUS BANGUN! LO GAK BOLEH TINGGALIN GUE!! BANGUN ARES! GUE BILANG BANGUN!!" Jihan meraih tubuh Ares dan memeluknya. Ia menangis terisak. Wajahnya sudah banjir dengan air mata. Jihan tak peduli, dengan darah Ares yang sudah menempel di bajunya. "L---lo gak bo--boleh, ti--tinggalin gue. Gu--gue gak mau kehilangan lo," lirih Jihan terbata-bata, karena tangisannya semakin hebat. "Gue mohon ja--jangan tinggalin gue, Res," isaknya dengan tub

