Jihan menangis terisak. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di atas rerumputan, di bawah pohon beringin besar yang terletak di taman sekolah. Jihan menyeka air matanya kasar. Ia merogoh saku baju, mengeluarkan ponselnya. Dengan tangan yang gemetar, Jihan mencari nomor Ares dan menghubungi cowok itu. Jihan semakin menangis, karena Ares yang tak kunjung mengangkat teleponnya. "A--Ares," lirih Jihan seraya terus berusaha menghubungi cowok itu. Jihan langsung menjatuhkan ponselnya, tangannya sudah terasa lemas. Kedua matanya sudah merah dan wajahnya yang sembab, karena sedari tadi menangis. Tanpa Jihan sadari, Ares tengah memperhatikan gadis itu dari belakang. Ares berdiri di sana, memandangi Jihan. Ia tak tega, melihat Jihan yang menangis seperti itu. Ia sudah jahat pada Jihan! Namun, ia t

