Ares langsung menghapus air matanya kasar, saat setetes bulir bening berhasil terjun dari pelupuk matanya. "Kadang gue berfikir, andai gue bisa memilih takdir, gue mau kayak lo," ucap Ares menolehkan kepalanya, menatap Antariksa. "Gue pengen jadi lo. Gue pengen ngerasain di sayang sama Papa, walaupun itu hanya lima menit. Gue gak masalah, yang penting gue bisa merasakan rasanya jadi lo dalam waktu lima menit itu." Antariksa menelan ludahnya susah payah. "Lo pikir, hidup gue bahagia seperti apa yang lo liat?" ujar Antariksa. "Lo salah, hidup gue gak sesempurna apa yang lo liat selama ini," lanjutnya sedikit dengan nada tinggi. Ares hanya diam saja. Ia pun mengalihkan wajahnya dari Antariksa dan kembali menatap indahnya langit malam. "Habis dari mana lo? Pergi dari pagi, dan sekarang

