Antariksa menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah, di atas kasur. s**l! Jantungnya seakan ingin copot, saat berhadapan dengan ayahnya tadi. Untung saja, Ayahnya langsung percaya dan tak lagi membahasnya. "s**l! Untung aja Papa percaya sama gue!" ujar Antariksa seraya menghembuskan napas lega. "Kenapa juga, gue punya sahabat b*****t kayak mereka?!" kesal Antariksa tak habis pikir. "Bisa-bisanya dia manfaatin gue!" lanjutnya semakin menggeram kesal. Antariksa memejamkan kedua matanya perlahan. Ia menormalkan napasnya yang tak beraturan. Selang beberapa detik kemudian, kedua matanya langsung terbuka, saat bayangan wajah seseorang terlintas di kepalanya. "Jihan," gumam Antariksa. "Kok gue jadi kangen ya, sama dia?" lanjutnya seraya tersenyum simpul. Mengingat, jika dirinya yang sudah lam

